Trump Sebut Peluang Damai dengan Iran Terbuka, AS Siap Serang Jika Negosiasi Gagal
Presiden AS Donald Trump menyebut peluang kesepakatan dengan Iran cukup besar, namun menegaskan operasi militer akan kembali dilakukan jika negosiasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan masih terdapat peluang besar untuk mencapai kesepakatan dengan Iran melalui jalur diplomasi. Namun, ia menegaskan Amerika Serikat siap kembali melancarkan operasi militer apabila perundingan yang sedang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Senin (27/7/2026), di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Washington dan Teheran setelah saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir.
"Mereka ingin bertemu dan kami sedang bertemu. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Ada peluang kita bisa mencapai kesepakatan. Tanpa langkah yang kami ambil, mereka bahkan tidak akan mau berbicara dengan kami. Kami sedang berbicara dengan Iran saat ini. Pembicaraan kami berjalan lancar," kata Trump.
AS Ancam Lanjutkan Operasi Militer
Trump menegaskan tekanan militer yang dilakukan Amerika Serikat menjadi alasan Iran akhirnya bersedia kembali ke meja perundingan.
Meski optimistis terhadap proses diplomasi, ia mengingatkan bahwa Washington tidak akan ragu mengambil langkah militer jika negosiasi menemui jalan buntu.
"Kemungkinan besar akan ada perkembangan. Jika tidak, maka kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari lalu. Mereka tidak akan meminta pertemuan itu jika kinerja kami buruk. Satu-satunya alasan mereka ingin bertemu adalah karena kami telah memberikan tekanan yang sangat kuat kepada mereka," ujarnya.
Trump tidak menjelaskan lebih lanjut bentuk operasi yang dimaksud maupun perkembangan terbaru dari pembicaraan tersebut.
Trump Akan Klarifikasi Informasi ke Putin
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menanggapi pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menyebut Rusia diduga membagikan intelijen satelit kepada Iran.
Trump mengatakan akan meminta penjelasan langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai informasi tersebut.
"Baiklah, kami akan segera mengetahuinya. Saya akan menanyakan hal itu kepada Putin. Kami akan mengetahuinya," kata Trump.
Bahas Iran Saat Bertemu Netanyahu
Trump dijadwalkan menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, keduanya akan membahas perkembangan konflik dengan Iran, implementasi Kerangka Kerja Trilateral di Lebanon, serta upaya memperluas Perjanjian Abraham di kawasan Timur Tengah.
Meski mengaku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Netanyahu, Trump menyebut keduanya tetap memiliki beberapa perbedaan pandangan terkait Iran.
Bertemu Zelenskyy Bahas Perdamaian Ukraina
Selain bertemu Netanyahu, Trump juga akan menggelar pertemuan terpisah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas perkembangan proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini masih terus diupayakan.
"Sekarang saatnya untuk mengakhiri perang," ujar seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat terkait agenda pertemuan tersebut.
Ketegangan AS-Iran Masih Tinggi
Beberapa hari terakhir, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah wilayah di Iran sebagai respons atas aksi Teheran yang menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menargetkan fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan Teluk.
Meski kedua pihak sempat menghentikan aksi saling serang selama tiga hari berturut-turut, situasi keamanan kawasan masih menjadi perhatian dunia. Gencatan senjata tersebut berlangsung di tengah keberadaan kerangka kerja perdamaian yang dimediasi Pakistan dan ditandatangani oleh Amerika Serikat serta Iran pada Juni 2026 sebagai langkah awal mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju kesepakatan damai.***
Editor : JakaPermana
