Viral di Medsos, Keberadaan Jaring Gawang Penyelamat bagi Pengendara di Kawasan Wisata Punclut Lembang

Keberadaan lajur darurat di wilayah tersebut diketahui merupakan inisiatif warga lantaran kerap terjadi kecelakaan, terutama kendaraan roda dua

Viral di Medsos, Keberadaan Jaring Gawang Penyelamat bagi Pengendara di Kawasan Wisata Punclut Lembang
Jaring penyelamat di kawasan wisata Punclut Lembang

INILAHKORAN, Ngamprah - Sebuah video memperlihatkan detik-detik pengendara sepeda motor mengalami rem blong di Kampung Sukasirna, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) viral di media sosial.

Beruntung, pengendara motor tersebut masih selamat lantaran adanya lajur darurat berupa jaring penyelamat menyerupai gawang sepakbola di sekitar jalan kawasan wisata Punclut tersebut.

Keberadaan lajur darurat di wilayah tersebut diketahui merupakan inisiatif warga lantaran kerap terjadi kecelakaan, terutama kendaraan roda dua atau sepeda motor mengingat jalan di kawasan wisata Punclut tersebut memiliki kontur jalan berbelok tajam serta naik turun.

Salah seorang warga penggagas lajur darurat, Toni Alfin mengatakan, lajur darurat itu dibuat secara swadaya dengan menggunakan peralatan seadanya, seperti besi, kayu dan ban bekas mobil.

Sayangnya, keberadaan lajur darurat tersebut belum maksimal lantaran masih ada pengendara yang mengalami luka meskipun tidak parah. Warga pun kemudian mengusulkan ke Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk memaksimalkan tempat tersebut.

"Ini dari dulu bikinnya sama Karang Taruna sama warga, dikarenakan posisinya tidak layak jadi pengajuan ke PUPR, ya baru tiga bulanan. Ide gawang ini dari PUPR, jadi posisinya gini, dulu besi sama ban bekas dipasang, tapi yang namanya rem blong tetap aja yang namanya luka ada," kata Toni kepada wartawan.

Toni menjelaskan, kawasan tersebut merupakan jalur ekstrem terutama bagi sepeda motor dengan kontur jalan yang curam dan berkelok. 

Bahkan, sambung dia, pada saat libur panjang Isra Miraj dan Tahun Baru Imlek kemarin, dalam satu hari 15 hingga 20 kecelakaan terjadi di jalur tersebut.

"Hari libur itu sehari bisa 15 sampai 20 kecelakan. Tapi tidak dititik ini aja, ada tiga, yang diatas sini sama bawah," jelasnya.

Awalnya, sebut Toni, dirinya sempat mengajukan pembuatan gawang darurat tersebut di tiga titik yang dinilai kerap terjadi kecelakaan. 

Namun, hingga saat ini baru satu titik yang direspon, bahkan itu pun setelah adanya pelajar yang menjadi korban meninggal dunia.

"Makanya saya ngajuin tiga di atas, disini, dibawah, lebih bagus mah. Apalagi yang di atas itu sangat perlu sekali karenadi sana jalannya belok juga terus curam," ujarnya. 

"Ya semoga aja secepatnya untuk dipasang juga diatas sama dibawah," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Firda Rachmawati