Viral Sembako Diduga Menumpuk di Gudang Aceh Tamiang, Netizen Pertanyakan Transparansi
Sebuah video viral sembako yang diduga menumpuk di gudang Aceh Tamiang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Media sosial kembali dibuat geger setelah sebuah video memperlihatkan tumpukan bantuan logistik di Gedung Sosial Paya Bedi, Kabupaten Aceh Tamiang, beredar luas. Ratusan kardus berisi sembako terlihat memenuhi ruang gudang, sementara warga di daerah terdampak bencana disebut masih kesulitan mendapatkan bahan makanan.
Dalam video yang beredar pada Sabtu (6/12/2025), terlihat deretan kardus berisi air mineral, beras, mi instan, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya tersusun rapi. Unggahan tersebut disertai tangkap layar percakapan yang menyatakan bahwa seluruh bantuan sementara disimpan di Gedung Sosial Paya Bedi.
“Kalau ada yang tanya bantuan di Paya Bedi di mana, bilang saja di gudang sosial. Semua bantuan dikumpulkan di sana,” demikian bunyi pesan yang ikut viral dan menimbulkan tanda tanya publik.
Viralnya video itu memicu gelombang kritik dari warganet, relawan, hingga berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mereka mempertanyakan alasan pemerintah daerah belum menyalurkan bantuan, sementara sejumlah titik bencana dilaporkan mengalami krisis pangan.
Beberapa aktivis menilai lambatnya distribusi terjadi akibat birokrasi yang panjang dan dianggap tidak sesuai dengan kondisi darurat. Relawan yang sedang berada di lapangan juga mengaku kesulitan membawa bantuan langsung karena harus melalui prosedur administratif yang dinilai memperlambat proses.
“Kalau ada warga yang sampai kelaparan, tanggung jawab moral ada pada pemerintah daerah,” tulis seorang pengguna media sosial menanggapi unggahan tersebut.
Hingga berita ini dibuat, pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang belum memberikan klarifikasi terkait alasan penundaan penyaluran bantuan. Media masih berupaya meminta keterangan resmi dari instansi terkait.
Untuk saat ini, informasi yang beredar di media sosial masih berupa narasi publik yang perlu diverifikasi lebih lanjut agar kejelasan situasi dapat dipastikan.
Editor : Firda Rachmawati
