INILAH, Bandung - Sepanjang 2018 lalu, PT Federal International Finance (FIF) membukukan pertumbuhan yang signifikan. Jumlah aset perusahaan pembiayaan itu mencapai Rp41,3 triliun atau tumbuh 7,9% dari tahun sebelumnya.
CEO FIFGroup Margono Tanuwijaya mengatakan, total penyaluran dana pembiayaan tahun lalu mencapai Rp38 triliun. Jumlah itu tumbuh 18% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan kondisi perekonomian domestik saat ini, target pembiayaan itu bisa sama dengan tahun kemarin. Tapi, harapannya bisa sampai Rp40 triliun,” kata Margono usai peresmian Kantor FIFGroup Cabang Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (23/1/2019).
Menurutnya, dari layanan produk yang ditawarkan itu mayoritas pembiayaan dikucurkan untuk lini bisnis unit sepeda motor baru. Porsinya mencapai 65%.
Disinggung mengenai kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang uang muka atau down payment (DP) 0%, dia menjelaskan lebih rinci. Margono menyebutkan, berdasarkan POJK No.35/POJK.05/2018 itu pihaknya berhak menyalurkan pembiayaan tersebut.
Sejauh ini, FIFGroup memiliki tingkat kesehatan keuangan mumpuni. Selain itu, nilai rasio non-performing financing (NPF) pembiayaan anak perusahaan Grup Astra ini tergolong rendah.
“NPF kita 0,7%. Aturannya kan, perusahaan pembiayaan dengan nilai rasio NPF lebih rendah atau sama dengan 1% dapat menerapkan ketentuan DP 0% untuk pembiayaan kendaraan bermotor. Kita bisa (menerapkannya),” ujarnya.
Meski demikian, dia menyebutkan pihaknya akan menggodok penerapan kebijakan tersebut. Sebab, risikonya pun relatif akan meningkatkan NPF. Selain itu, uang muka rendah itu berdampak pada semakin besar cicilan yang harus dibayarkan nasabah dan tenor yang semakin lama.
Adanya konsekuensi itu pun diamini Kepala Kantor Wilayah Jabar 1 FIFGroup Indra Suryawan. Dia menyebutkan, sejauh ini kebijakan 0% itu dijadikan alternatif pilihan yang ditawarkan kepada konsumen.
“Selain itu, market juga tidak seluruhnya menginginkan adanya DP 0%. Mereka sudah memahami DP 0% itu akan berdampak pada cicilan yang harus dibayarkan dan lamanya tenor. Nggak akan banyak konsumen yang membutuhkan itu. Paling, ini disediakan untuk segmen tertentu,” ucapnya.
Mengenai kinerja bisnis, secara keseluruhan pembiayaan di Jabar itu memberikan kontribusi sebesar 14% terhadap capaian nasional. Porsi tersebut diakuinya tertinggi se-Tanah Air. Di Jabar, terdapat tiga kantor wilayah berbeda yakni Jabar 1, 2, dan 3. Indra menyebutkan, dari 14% total Jabar itu kontribusi Jabar 1 menyumbang sebesar 6,8%. Mengenai besaran pembiayaan, pada 2018 lalu di wilayah Jabar 1 menyalurkan kredit sebesar Rp2,6 triliun. Sedangkan, wilayah Jabar 2 mengucurkan kredit sebesar Rp2,9 triliun.