270 RW di Cimahi Berpotensi Krisis Air Bersih saat Kemarau Dampak El Nino

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi bakal memetakan wilayah rawan bencana menyusul prediksi musim kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino.

270 RW di Cimahi Berpotensi Krisis Air Bersih saat Kemarau Dampak El Nino
BPBD Cimahi sebut sebanyak sebanyak 270 RW dari total 312 RW yang ada berpotensi besar terdampak kemarau ekstrem imbas fenomena El Nino. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi bakal memetakan wilayah rawan bencana menyusul prediksi musim kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino.

Berdasarkan data pihaknya, tercatat sebanyak 270 RW dari total 312 RW yang ada berpotensi besar mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. 

"Kami telah menyiapkan skenario tanggap darurat berupa pendistribusian bantuan air jika kondisi krisis benar-benar terjadi di lapangan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan, Sabtu (25/4/2026).

Dia menjelaskan, angka tersebut merupakan gambaran nyata dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, wilayah yang masuk kategori rawan tinggi ini tersebar di berbagai titik di 15 kelurahan. 

"Untuk mengantisipasi hal itu, kami telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) serta Perumda Tirta Raharja," jelasnya.

Fithriandy menyebut, mekanisme yang dilakukan yakni dengan segera melakukan operasi pasokan air bersih ke lokasi-lokasi yang melaporkan kekeringan.

"Berdasarkan peta kerawanan dan pengalaman musim kering, dari total 312 RW, sekitar 270 RW itu ada laporan kekeringan dan kesulitan air bersih. Jadi kategorinya memang tinggi," sebutnya.

"Jika ada laporan kekurangan air bersih, kita akan langsung koordinasi dengan pihak terkait seperti DPKP untuk memasok air bersih ke lokasi terdampak," sambungnya.

Selain masalah air, ungkap Fithriandy, potensi kebakaran juga menjadi perhatian utama. Pemetaan menunjukkan kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di wilayah selatan seperti Cireundeu dan wilayah utara seperti Cipageran dengan kategori risiko sedang. 

"Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan kasus yang sering terjadi, yakni kebakaran pada lahan semak belukar atau alang-alang yang kering," ungkapnya.

Sementara itu, untuk antisipasi kebakaran di wilayah padat penduduk, BPBD terus berkoordinasi erat dengan dinas terkait dan instansi penegak hukum serta pemadam kebakaran.

Kendati begitu, berdasarkan kabar terbaru, BMKG memprediksi durasi musim kemarau tahun ini diproyeksikan tidak terlalu panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau berdasarkan informasi terakhir yang kami terima, musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih pendek dan lebih cepat selesainya," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani