3 Warganya Jadi Korban Pemerkosaan Herry Wirawan, Kades Asal Garut Ungkap Fakta Mengejutkan
Kades Mekarmukti Hikmat Wijaya mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kasus pemerkosaan yang membuat tiga warganya jadi korban.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi berhasil bertemu para orang tua korban yang tinggal di Mekarmukti, Kabupaten Garut. Sebelum bertemu langsung dengan korban, Dedi sempat melakukan sambungan telepon dengan Kepala Desa (Kades) Mekarmukti Hikmat Wijaya.
Kades Mekarmukti Hikmat Wijaya mengatakan ada sekitar delapan orang anak di desanya yang 'nyantri' di Bandung. Dari jumlah tersebut lima orang perempuan dan sisanya laki-laki. Dia pun mengungkapkan fakta mengejutkan soal kasus yang melibatkan tiga warganya itu.
"Nyantri itu dari tahun 2014-2015," ujar Hikmat kepada Dedi.
Baca Juga: RK Minta DPR Segera Sahkan RUU PKS
Menurut Hikmat dari lima orang perempuan empat orang menjadi korban. Tiga orang telah melahirkan sementara satu lainnya mengalami pelecehan seksual.
"Sekarang udah lahir itu dua laki-laki, satu perempuan. Paling besar empat tahun, paling kecil baru tiga-empat bulanan," ujarnya.
Hikmat menjelaskan warganya tersebut mau ke Bandung karena awalnya diiming-imingi pesantren gratis. Selain itu pesantren juga disebut bagus dan telah diakui oleh Gubernur dan Wagub Jabar.
"Si Hery (pelaku) itu istrinya punya saudara nikah ke warga saya. Kasih tahu bahwa ada pesantren gratis. Mendengar itu dan diiming-iming pesantren bagus sudah diketahui Pak Ridwan Kamil dan Pak Uu makanya semangat mau sekolah ke sana," beber Hikmat.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pria KDRT dan Sebar Video Istri Tanpa Pakaian di Grup Sekolah di Bandung
Soal awal mula terungkapnya kasus, Hikmat mengatakan itu terjadi pada lebaran atau Idul Fitri 2021 ini. Saat itu salah seorang anak pulang dalam kondisi perut buncit layaknya wanita hamil.
Pada saat dicurigai hamil anak tersebut terlihat ketakutan dan tiga hari mengurung diri di kamar. Akhirnya satu hari setelah lebaran Hikmat datang ke rumah tersebut untuk membujuk korban untuk berbicara jujur.
"Saya bilang keluarga pasti terima dan akan membantu kalau kamu jadi korban pemaksaan atau pemerkosaan. Kamu juga jadi pahlawan yang bisa mengungkap kebiadaban ini. Mungkin adik-adik kamu yang belum terjadi bisa selamat," ujar Hikmat.
Setelah berhasil membujuk Hikmat pun melaporkan kasus ini ke P2TP2A Garut dan Polda Jabar.
"Saya bolak-balik sekitar 10 hari ke Polda sampai pulang saya sekeluarga kena covid," ucapnya.
Baca Juga: Curhat ke Karutan, Herry Wirawan Akui Semua Perbuatannya
Disinggung mengapa baru kali ini terungkap, Hikmat menjelaskan karena kejadian sebelumnya korban pulang tidak dalam kondisi hamil dan anak yang telah dilahirkan ditinggal di pesantren.
"Ini santri dan santriwati kan pulang setahun sekali hanya lebaran. Nah yang sebelumnya itu melahirkan sebelum lebaran jadi enggak ketahuan. Belum lagi baru enam hari di sini sudah dijemput langsung. Anak juga enggak bisa komunikasi langsung dengan orang tua karena alasan ketat pesantrennya," beber Hikmat.
Saat ini, kata Hikmat, seluruh anak yang dilahirkan di pesantren sudah dibawa ke rumah. Sebelumnya anak-anak tersebut disimpan di mess yang diduga akan dibuat menjadi panti asuhan.
"Itu saking bejadnya (pelaku) mau bikin panti asuhan anak mungkin untuk menarik simpati pemerintah, padahal yang disimpan adalah anaknya sendiri," ucap Hikmat.***(Rinda Suherlina)
Editor : inilahkoran


