3.947 Anak di Cimahi Belum Sekolah
Pembaruan data resmi dari dasbor ATS Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan peningkatan jumlah anak tidak sekolah di Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pembaruan data resmi dari dasbor anak Tidak sekolah (ATS) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan peningkatan jumlah anak tidak sekolah di Kota Cimahi.
Hingga akhir 30 September 2026, tercatat ada 3.947 anak usia 6–18 tahun yang belum bersekolah, putus sekolah, atau lulus tidak melanjutkan pendidikan.
Angka itu naik signifikan dibandingkan data tahun 2025 yang tercatat sebanyak 3.059 orang.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi Reni Herawati menjelaskan, peningkatan tersebut tidak serta-merta berarti semakin banyak anak berhenti bersekolah dalam satu tahun terakhir.
Menurutnya, kenaikan angka lebih dipengaruhi oleh proses verifikasi dan validasi data yang dilakukan secara lebih ketat dan menyeluruh oleh Pusat Data Pendidikan, yang memungkinkan anak-anak yang sebelumnya belum teridentifikasi akhirnya masuk ke dalam sistem.
"Hal ini terjadi dikarenakan adanya proses verifikasi dan validasi data yang masif dilaksanakan oleh Pusat Data Pendidikan sehingga terjadi proses pemutakhiran, perluasan cakupan, dan validasi data ikut menyebabkan angka terdata meningkat," kata Reni, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan data yang ditampilkan di dasbor ATS telah melalui pemadanan dengan data kependudukan Dukcapil dan mencakup kelompok usia 6 hingga 18 tahun.
"Tapi Dinas Pendidikan Kota Cimahi sudah mengambil langkah dengan menggelar kegiatan verifikasi dan validasi langsung bersama pihak sekolah pada 28–29 September 2026," sebutnya.
"Sebanyak 146 satuan pendidikan dari jenjang PKBM, SD dan SMP dilibatkan untuk menelusuri keakuratan data melalui dasbor ATS," sambungnya.
Tak hanya itu, Disdik Kota Cimahi juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan se-kawasan Bandung Raya untuk menelusuri anak warga Cimahi yang tercatat bersekolah di luar batas administrasi kota, sehingga tidak terjadi salah data.
"Selanjutnya, Pemerintahan Kota Cimahi berencana membentuk tim koordinasi penanganan ATS yang melibatkan unsur kewilayahan dan perangkat daerah terkait untuk penanganan yang lebih menyeluruh," ujarnya.
Dari hasil verifikasi fakta terungkap, ada tiga alasan terbanyak anak tidak melanjutkan pendidikan, antara lain keengganan atau tidak mau bersekolah, meninggal dunia dan alasan lainnya.
Secara lebih rinci, survei Pemerintah Kota Cimahi tahun 2025 menunjukkan rendahnya minat anak untuk bersekolah justru menduduki peringkat teratas penyebab, dengan persentase mencapai 28 hingga 38 persen dari kasus yang berhasil diidentifikasi.
"Faktor lain yang ikut berkontribusi mencakup kondisi ekonomi keluarga, anak yang memilih bekerja, pernikahan usia anak, serta persoalan dalam keluarga," sebutnya.
Reni mengakui temuan ini memberikan perspektif baru bagi kebijakan pendidikan di Cimahi. Persoalan anak tidak sekolah tidak lagi didominasi oleh faktor biaya, karena pemerintah telah menyediakan berbagai bentuk bantuan bagi keluarga kurang mampu.
"Tantangan yang muncul kini jauh lebih kompleks, yakni bagaimana membangkitkan kembali minat dan motivasi anak untuk belajar," ucapnya.
"Ini bukan lagi sekadar tugas pemerintah semata, melainkan kerja sama yang harus dibangun bersama antara keluarga, masyarakat, lingkungan dan sekolah agar anak-anak kembali merasa bahwa pendidikan itu kebutuhan yang berharga untuk masa depan mereka," imbuhnya.
Editor : Doni Ramdhani
