400 Siswi Karawang Bekasi Disiapkan Jadi Talenta Digital Masa Depan
Melalui lokakarya AI, coding, robotika dan pengembangan gim. Peserta diajak memahami teknologi lewat pendekatan berbasis proyek yang mendorong kreativitas siswa
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah ambisi Indonesia membangun 12 juta talenta digital pada 2030, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar perempuan tidak tertinggal dalam arus transformasi kecerdasan buatan (AI). Hal inilah yang menjadi sorotan dalam penyelenggaraan Amazon Girls’ Tech Day 2026 oleh Amazon bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI).
Program yang memasuki tahun keempat itu, melibatkan lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi. Untuk pertama kalinya di Indonesia, kegiatan diperluas dengan menjangkau siswi dari jenjang SD hingga SMA. Melalui lokakarya AI, coding, robotika dan pengembangan gim. Peserta diajak memahami teknologi lewat pendekatan berbasis proyek yang mendorong kreativitas dan kolaborasi.
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid mengapresiasi, kolaborasi tersebut sebagai langkah konkret menyiapkan talenta digital perempuan sejak dini.
“Di Kementerian Komunikasi dan Digital, target kami pada tahun 2030 adalah membangun 12 juta talenta digital. Saya percaya kita perlu mendorong perempuan muda, seperti mereka yang hadir di Girls’ Tech Day untuk menjadi bagian dari talenta digital masa depan kita,” kata Meutya Hafid, Jumat 13 Februari 2026.
Ia menambahkan, teknologi merupakan sumber pemberdayaan yang kuat. Tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga dan bangsa.
Dari sisi industri, Indonesia Regional Manager of Data Center Operations Amazon Web Services (AWS), Winu Adiarto menegaskan, pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi lonjakan adopsi AI di dunia kerja.
“Melalui Amazon Girls’ Tech Day, kami ingin memastikan bahwa anak perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memahami, menciptakan dan memimpin di era AI,” kata Winu Adiarto.
Direktur Eksekutif PJI, Utami Anita Herawati menekankan, intervensi sejak sekolah dasar penting untuk mematahkan stereotip bahwa bidang teknologi identik dengan laki-laki.
“Pendekatan komprehensif ini diharapkan dapat menumbuhkan minat, kepercayaan diri dan aspirasi jangka panjang anak perempuan untuk berkarier di dunia teknologi,” kata Utami Anita Herawati.
Sementara itu, VP Data & AI di Mekari, Cecilia Astrid Maharani menyoroti masih rendahnya partisipasi perempuan di sektor ini. “Kurang dari 5 persen perempuan menjadikan teknologi sebagai pilihan karier utama mereka. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk terlibat di dunia teknologi karena keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna,” kata Cecilia Astrid Maharani.
Pandangan serupa disampaikan CEO & Founder GameChanger Studio sekaligus Co-Founder Indonesia Women in Game, Riris Marpaung. “Dunia gaming kini tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana mengembangkan berbagai keterampilan pribadi seperti komunikasi, empati dan kepemimpinan,” kata Riris Marpaung.
Apresiasi juga datang dari Kepala Sekolah PKBM Baitul Hasanah Cikarang, Abdullah Mukhlis. Ia menilai, program tersebut memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswi. Termasuk dalam membangun kepercayaan diri, dan kemampuan berpikir kritis.
“Program ini tidak hanya membuka wawasan baru. Tetapi juga membekali siswi dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan,” kata Abdullah Mukhlis.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara industri dan dunia pendidikan, Amazon dan PJI berharap semakin banyak anak perempuan Indonesia berani bermimpi dan mengambil peran sebagai pemimpin di era digital. Secara global, Amazon menargetkan menjangkau lebih dari satu juta anak perempuan dan perempuan muda hingga 2030 melalui inisiatif serupa.***
Editor : JakaPermana

