41 Orang di Jabar Meninggal Akibat DBD, Bey Machmudin Ingatkan Masyarakat Jaga Kebersihan
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin kembali ingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan, seiring telah adanya 41 orang di Jabar meninggal akibat DBD.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin kembali ingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan seiring telah adanya 41 orang di Jabar meninggal akibat DBD.
Korban 41 orang di Jabar meninggal akibat DBD itu berdasarkan data yang menunjukkan sejak Januari hingga akhir Februari 2024 tercatat 5.552 kasus DBD di Jabar. Artinya, hal itu menunjukkan Jabar rentan akan penyakit tersebut.
"(Dengan adanya fakta 41 orang di Jabar meninggal akibat DBD itu) Tentunya kita akan terus ingatkan kepada masyarakat, untuk menjaga kebersihan," ujar Bey Machmudin usai menghadiri Rapat Paripurna di DPRD Jabar, Jumat 1 Maret 2024.
Selain itu, Bey Machmudin juga meminta fasilitas layanan kesehatan di Jawa Barat, untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menghadapi ancaman DBD.
"Kami juga minta kepada seluruh rumah sakit untuk siap siaga, mengantisipasi," ucapnya.
Termasuk edukasi kepada masyarakat, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar sebagai mitigasi mencegah supaya korban jiwa tidak kembali bertambah.
"Preventif agar masyarakat terus diedukasi oleh Dinas Kesehatan, maupun Puskesmas tapi juga untuk layanan kesehatan siap siaga," imbuhnya.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi menyebut hingga 29 Februari 2024, angka penyebaran DBD telah tercatat sebanyak 5.552 kasus dengan angka kematian sekitar 41 orang.
"Memang pada bulan Januari, Februari, hingga Maret itu, kasus DBD akan terus meningkat seperti di tahun ini saja (2024), kasus DBD yang dilaporkan sudah mencapai 5.552 kasus hingga bulan Februari ini. Sedangkan pada tahun kemarin (2023) di bulan yang sama, itu hanya ada sekitar 3.615 kasus," ungkapnya.
Vini mengungkapkan, faktor terjadinya peningkatan kasus DBD ini disebakan oleh lingkungan di masyarakat. Bahkan dia menjelaskan, jika masyarkat tidak menjaga lingkungan dengan cara menguras, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang (3M), maka potensi penyebaran kasus mudah terjadi.
"Ini adalah penyakit yang bersifat tahunan. Jadi sepanjang tahun kasus DBD ini pasti ada, tapi sebetulnya penyakit ini disebabkan oleh faktor lingkungan. Jadi ketika masyarakat dalam hal ini itu tidak rajin dalam melaksanakan 3M atau lain sebagainya, itu otomatis perindukan nyamuk (Aedes Aegepty) akan meningkat, nah inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan kasus DBD," terangnya.
Vini melanjutkan, kasus DBD yang paling tinggi saat ini berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dia menyebut, hingga 29 Februari ini, penyebaran DBD di KBB dilaporkan telah menyentuh di angka 626 kasus dengan jumlah kematian sebanyak lima orang.
"Jumlah kasus terbanyak kalau berdasarkan data itu di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kabupaten Subang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Purwakarta, Sumedang, Kota Bandung, dan kota bogor. Nah yang paling banyak, di KBB itu ada 626 kasus dengan angka kematian 5 orang," ungkapnya
Maka agar kasus DBD di Jabar tidak semakin meluas, Vini menuturkan kepada masyarakat intuk tetap menjaga kebersihan lingkungan khususnya di musim pergantian cuaca.
"Karena di bulan-bulan tertentu itu kasus DBD ini akan meningkat seperti ketika pergantian musim dari musim hujan ke kering ataupun sebaliknya karena akan banyak air yang menggenang dan akan mempermudah terjadinya perindukan nyamuk khusunya Aedes Aegypti. Jadi dalam hal ini memang peran serta masyarakat itu sangat dibutuhkan karena melalui peran masyarakat, itu bisa membantu mengantispasi terjadinya penyebaran DBD," tandasnya. (yuliantono)
Editor : Doni Ramdhani


