500 Tahun Merajut Toleransi di Kampung Adat Cireundeu

Toleransi warga kampung adat Cireundeu dengan umat muslim terus terjaga begitu juga saat Ramadan

500 Tahun Merajut Toleransi di Kampung Adat Cireundeu
Kasepuhan Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi saat memimpin ritual adat, Jumat (6/3). (Foto Agus Satia Negara/inilahkoran)

INILAHKORAN.ID - kampung adat Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, menjadi bukti hidup perbedaan bukanlah dinding, melainkan pijakan untuk persaudaraan. 

Di bulan suci Ramadan ini, harmoni antara penganut Sunda Wiwitan dengan umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan menjadi warna berbeda yang menghiasi kampung adat berusia sekitar 500 tahun itu.
 
Ada sekitar 300 jiwa penghayat Sunda Wiwitan yang masih tinggal di kampung yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-16, buktinya tercatat dalam penelitian tentang keberadaan batu penyanggah rumah masa lalu. 

Meskipun jumlahnya tidak banyak dan beberapa di antaranya telah berpindah keyakinan karena berbagai alasan, nilai-nilai saling menghormati yang ditanamkan oleh para leluhur seperti Eyang Nursalam, Eyang Ama, dan Aki Madrais, yang tak lain sang pembuat "lembur" atau kampung tetap kokoh terpancang di hati setiap warga.
 
"Kita tidak membeda-bedakan ajaran. Meskipun tidak menjalankan puasa seperti umat Islam, kami selalu menjaga etika dan memberikan rasa hormat yang penuh," kata sesepuh kampung adat Cireundeu, Abah Widi, Jumat 6 Maret 2026.
 
Bagi mereka, toleransi bukan sekadar kata kosong, melainkan hidup dalam prinsip "Silih Ajenan" atau saling menghormati yang tercermin dalam pepatah Sunda, yakni "Teu meunang sirik pidik jail kaniaya" (tidak boleh iri hati, dengki, usil, dan zalim terhadap sesama).
 
Menariknya, penghayat Sunda Wiwitan juga mengenal konsep "puasa", meskipun dengan makna yang berbeda. 

"Kami juga berpuasa, tapi bukan berhenti makan dan minum. puasa kami itu menjaga mulut dari kata-kata yang tidak baik, menjaga telinga dari gosip, serta menjaga tingkah laku agar selalu baik," jelasnya.

Menurutnya, prinsip ini juga sejalan dengan ajaran yang diajarkan dalam Islam, di mana puasa tidak hanya tentang menahan lapar dan haus, namun juga mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak baik.
 
Dalam setiap aktivitas keagamaan maupun adat, kedua kelompok selalu saling mendukung dan bekerja sama. Tak ada satu pun aktivitas yang dilakukan tanpa pemberitahuan dan persetujuan bersama. 

"Kalau mau gelar upacara adat, kami pasti minta izin dulu ke warga muslim. Begitu juga sebaliknya, mereka selalu memberi tahu kami kalau ada kegiatan keagamaan," ungkapnya.

"Dengan demikian, setiap orang bebas menjalankan keyakinannya dengan aman dan nyaman, tanpa rasa terganggu atau mengganggu," tandasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti