Ajax Bukan Pertama, Ini Kebangkitan Luar Biasa Liga Champions

Sukses Ajax Amsterdam bangkit dari kekalahan di kandang sendiri dan membungkam Real Madrid di Santiago Bernabeu, mengejutkan banyak orang. Tapi, ini bukan pertama kali kebangkitan menakjubkan terjadi

Ajax Bukan Pertama, Ini Kebangkitan Luar Biasa Liga Champions
INILAH, Madrid - Sukses Ajax Amsterdam bangkit dari kekalahan di kandang sendiri dan membungkam Real Madrid di Santiago Bernabeu, mengejutkan banyak orang. Tapi, ini bukan pertama kali kebangkitan menakjubkan terjadi di ajang Liga Champions.
 
Liga Champions dianggap sebagai kompetisi sepak bola terbaik di dunia. Dia berkali-kali menghadirkan pesona luar biasa. Salah satunya adalah soal kebangkitan tim-tim yang di luar dugaan setelah menderita kekalahan di laga pertama.
 
Semua orang masih ingat bagaimana kebangkitan luar biasa Barcelona saat menghadapi Paris St Germain pada perempat final 2016/17 lalu. Atau, ketika musim lalu AS Roma menyingkirkan Barcelona. Pun ketika 15 tahun lalu, Deportivo La Coruna menggulung AC Milan.
 
Tapi, apa yang dilakukan Ajax memang sangat jarang terjadi. Jika Barcelona, AS Roma, dan Deportivo La Coruna mewujudkannya di kandang sendiri, Ajax melakukannya di kandang lawan. Padahal, saat menjamu Real Madrid sebelumnya, mereka menyerah 1-2.
 
Barcelona 6-1 PSG (2016/17)
 
Tak seperti Ajax, Barcelona memang bangkit di kandang sendiri. Tapi, yang mereka lakukan lebih dramatis ketimbang Ajax. Gol penentu lolosnya Barcelona lahir dari tendangan terakhir pertandingan tersebut, detik-detik menjelang laga bubar, melalui tendangan Sergi Roberto.
 
PSG menang di kandang sendiri pada pertemuan pertama 4-0. Mereka pun sangat berpeluang melaju ke semifinal untuk pertama kalinya sejak klub Prancis itu dikuasai Emir Qatar.
 
Tapi, semuanya berbalik. Penampilan apik Neymar menjadi inspirasi Barcelona untuk bangkit. Mereka menang 6-1. Sergi Roberto yang lebih sering jadi cadangan di era Luis Enrique itu, tampil sebagai penyelamat dengan mencetak gol penentu di detik-detik terakhir itu. Jika Sergi gagal mencetak gol, PSG lolos berkat produktivitas lebih mencetak gol di kandang lawan.
 
AS Roma 3-0 Barcelona (2017/18)
 
Hasil ini merupakan pukulan telak bagi Ernesto Valverde sejak dia menjadi pelatih Barcelona. Setelah mengalahkan AS Roma 4-1 di Camp Nou pada laga pertama, tak ada yang menduga AS Roma mampu bangkit. Sulit mencetak tiga gol ke gawang Barcelona.
 
Tapi, pasukan Italia yang ditukangi Eusebio Di Francesco itu tampil gila-gilaan. Dramatisnya, mereka mencetak gol penentu kelolosan itu juga di akhir babak kedua. Sundulan kepala Kostas Manolas menembus gawang Barcelona, membuat AS Roma lolos ke semifinal.
 
Deportivo 4-0 AC Milan (2003/04)
 
Pulang dari San Siro, tak banyak harapan yang dibawa Deportino La Coruna. Klub Spanyol itu membawa kekalahan 4-1. Gol tandang di San Siro dianggap tak begitu menguntungkan karena saat itu Milan masih terhitung klub tangguh di Eropa.
 
Tapi, lewat malam penuh magis di Stadion Riazor, Deportivo mengamuk. Mereka menunjukkan penampilan yang dianggap sebagai puncak penampilan terbaik Deportivo sepanjang sejarah klub itu. Melalui pemain sekelas Diego Tristan, Aldo Duscher, Walter Pandiani, dan Valeron, mereka mendominasi. Deportivo menang 4-0 dan lolos ke semifinal sebelum langkahnya dihentikan FC Porto.
 


Editor : inilahkoran