Apnatel Jabar Segera Dirikan LIO di Bandung
Dalam waktu dekat, Apnatel Jabar merealisasikan program utama. Yakni, mendirikan kawasan lingkungan industri optik (LIO) yang representatif di Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Dalam waktu dekat, Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jabar merealisasikan program utama. Yakni, mendirikan kawasan lingkungan industri optik (LIO) yang representatif di Bandung.
Ketua Apnatel Jabar Boris Syaifullah mengatakan, untuk mendirikan LIO tersebut pihaknya bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Miztek Co Ltd yang fokus di bidang fiber optik. Hasil kolaborasi itu terealisasi dengan didirikannya perusahaan penanaman modal asing (PMA) bernama PT Borsya Miztek Korina (BMK) Indonesia.
“Dengan MoU yang diteken itu merupakan cikal bakal dan tonggak sejarah pendirian LIO yang lebih sempurna. Dalam pembagian sahamnya, 51:49 itu mayoritas dikuasai kita, PT BCC (Borsya Cipta Communica),” kata Boris saat perayaan HUT ke-4 PT BCC di Bandung, Selasa (19/11/2019).
Dia menuturkan, di kawasan LIO itu menjalankan core business berupa assembling kabel fiber optik. Tingginya kebutuhan fiber optik Tanah Air diakuinya menjadi potensi bisnis yang akan digarap. Sejauh ini, kebutuhan fiber optik di Indonesia belum mencapai 30%.
Disinggung mengenai pelaksanaan kerja sama tersebut, Boris menyebutkan hal itu akan dilakukan pada awal Desember ini. Nantinya, selain membuat kabel fiber optik di kawasan LIO itu pun akan dibuat konektor yang berfungsi vital sebagai penghubung.
“Kabar akan adanya LIO di Bandung itu sudah menarik minat puluhan perusahaan luar negeri yang berbasis fiber optik untuk bergabung. Selain dari Korea, perusahaan yang berminat itu berasal dari Cina dan Singapura,” ucapnya.
Terkait bahan baku, Boris mengakui sejauh ini 50% komoditas itu didominasi pasokan Korea Selatan. Sisanya, dia mengimpor dari dua negara lain. Meski demikian, dia mengklaim produk fiber optik buatannya mengandung tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 42%.
Sebagai pelaku industri fiber optik, Boris sebagai CEO PT BCC optimistis bisa mengembangkan bisnisnya. Saat ini, dia menyebutkan penghasilan BCC berhasil meraup sebesar Rp50 miliar per bulan. Ke depan, target bidikan itu mencapai Rp100 miliar per bulan. (dnr)
Editor : suroprapanca

