Apresiasi Kapolda Jabar, Polrestabes Bandung Dinilai Cepat Tangani Geng Motor

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan mengapresiasi kinerja Polrestabes Bandung yang dinilai cepat dan responsif dalam menangani permasalahan geng motor yang masih meresahkan masyarakat di wilayah Jawa Barat

Apresiasi Kapolda Jabar, Polrestabes Bandung Dinilai Cepat Tangani Geng Motor
Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan

INILAHKORAN.ID – Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan mengapresiasi kinerja Polrestabes Bandung yang dinilai cepat dan responsif dalam menangani permasalahan geng motor yang masih meresahkan masyarakat di wilayah Jawa Barat.

Rudi menyebut, meski pihaknya telah mengeluarkan maklumat pemberantasan geng motor, fenomena tersebut masih terus muncul. Namun demikian, upaya penegakan hukum yang dilakukan jajaran kepolisian, khususnya Polrestabes Bandung, dinilai paling menonjol dalam pengungkapan kasus-kasus geng motor.

“Alhamdulillah, kalau setiap mereka muncul dan berulah, pasti diungkap. Polrestabes Bandung yang paling banyak pengungkapannya,” ujar Rudi.

Kapolda menjelaskan, maklumat yang dikeluarkannya memuat dua komponen utama. Pertama, kewajiban anggota Polri untuk melakukan pemberantasan geng motor mulai dari pencegahan hingga penindakan. Kedua, mengajak masyarakat untuk berperan aktif dengan melaporkan keberadaan geng motor kepada kepolisian.

Ia menekankan, penanganan geng motor tidak boleh hanya dilakukan saat terjadi aksi kekerasan di jalanan. Menurutnya, aktivitas geng motor tidak hanya tampak ketika terjadi tawuran atau aksi kriminal, tetapi juga saat mereka berkumpul dan berorganisasi di luar pantauan.

“Jangan hanya diindahkan ketika mereka gelut, bacok-bacokan, bawa rantai. Itu yang muncul ke permukaan. Yang lagi tidak muter-muter, masih banyak lagi,” tegasnya.

Rudi menilai persoalan geng motor merupakan masalah bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia juga telah menyampaikan hal tersebut kepada Gubernur Jawa Barat. Menurutnya, regenerasi dalam geng motor menjadi alasan utama mengapa fenomena ini tidak pernah benar-benar hilang sejak 2010.

“Yang tua berhenti, merasa tobat, merasa ada kerjaan lain. Tapi yang baru muncul lagi, adik, sepupu, dan seterusnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kapolda menyoroti faktor ekonomi dan pendidikan sebagai akar persoalan. Ia menyebut, sebagian besar anggota geng motor berasal dari kalangan yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau putus sekolah. Karena itu, perbaikan ekonomi dan peningkatan akses pendidikan dinilai menjadi strategi penting untuk menekan angka keterlibatan remaja dalam geng motor.

“Kalau kerja atau sekolah aktif, biasanya tidak terlibat geng motor,” katanya.

Selain penegakan hukum, Rudi menegaskan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam mencegah keterlibatan anak muda dalam geng motor. Ia juga mengajak media untuk turut berpartisipasi dengan mensosialisasikan bahaya dan dampak negatif geng motor kepada masyarakat.

“Ini masalah kita semua. Pemberantasan tetap kami lakukan sesuai maklumat, tapi partisipasi masyarakat, keluarga, dan media sangat penting agar geng motor bisa terkendali,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti