Asa Petani Teh Jabar di Tea Fest 2025

Prihatin, itulah kata yang tepat bila menggambarkan kondisi petani teh di Jawa Barat saat ini.

Asa Petani Teh Jabar di Tea Fest 2025
Prihatin, itulah kata yang tepat bila menggambarkan kondisi petani teh di Jawa Barat saat ini.

INILAHKORAN, Bandung - Prihatin, itulah kata yang tepat bila menggambarkan kondisi petani teh di jawa barat saat ini.

Harus mulai bekerja pada pukul 04.00 WIB, hanya untuk memetik daun teh segar yang cuma dihargai sekitar Rp1.700 per kilogram, dengan konsekuensi tangan kesemutan dan kram.

Ketua Panitia Tea Fest 2025 Arys Buntara mengungkapkan, ada 34 ribu petani teh di Jabar dan Jawa Tengah yang tergabung dalam Paguyuban Tani Lestari dalam kondisi tersebut.

Maka dari itu, melalui Tea Fest 2025 yang diisi beragam kegiatan seperti kompetisi mixtealogi competition, workshop mixtealogi dan pameran teh rakyat, diharapkan dapat menjadi asa petani teh Jabar, untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Tea Fest 2025 yang diselenggarakan di Bandung Indah Plaza (BIP), Kota Bandung, sejak 15-20 Juli 2025 diharapkan Arys dapat memantik minat masyarakat, khususnya anak muda akan teh.

"Disini kita mengangkat produk teh rakyat, terutama dari jawa barat. Kenapa kita adakan di Bandung? Karena jawa barat produksi teh terbesar di Indonesia," ujar Arys.

Total ada 11 kabupaten/kota di Jabar lanjut Arys, yang memiliki petani dan kebun teh. Antaranya Ciwidey dan Pangalengan di Kabupaten Bandung, Subang, Purwakarta, Garut, Tasikmalaya, Majalengka.

Dengan komposisi, 55 persen kebun teh di Jabar merupakan milik petani dan selebihnya perusahaan negara seperti PTPN dan swasta.

Jumlah 55 persen ini kata dia, bukan tidak mungkin menurun jika tak ada upaya penyelamatan. Maka dari itu, Paguyuban Tani Lestari mengisiasi gelaran Tea Fest 2025, supaya ada perbaikan.

"Banyak sekali orang yang menggantungkan hidup dari teh. Kita angkat Tea Fest 2025 ini, karena memang memengaruhi hajat hidup orang banyak. Cuma masalahnya, gengsi teh ini semakin berkurang. Makanya kita angkat Tea Fet ini, supaya generasi milenial, Gen Z bisa menikmati teh yang lebih modern," ucapnya.

"Makanya kita hadirkan mixtealogi competition yang diikuti oleh bartender kafe, yang kalau tahun kemarin jumlahnha delapan peserta. Sekarang ada 35 peserta. Terjadi peningkatan, harapannya mereka dapat menciptakan minuman teh yang digemari generasi muda," imbuhnya.

Kembai mengenai kondisi petani teh, saat ini diakui Arys, terjadi nir regenerasi karena tidak ada penerus. Sebab, harga teh jauh dari harapan.

"Karena dia melihat orangtuanya tidak begitu sejahtera. Terikat dengan tengkulak, jadi enggak ada kemerdekaan bagi petani teh rakyat," tuturnya.
 
Padahal, kualitas teh Indonesia khususnya Jabar paling baik ketimbang negara lain. Sebab, memiliki rasa dan aroma yang kuat, bahkan kerap menjadi campuran teh dari negara lain.

Hanya kalah dari Jepang dan China kata dia, karena memang digarap serius oleh mereka dan didukung pemerintahnya.

"Padahal teh kita ini luar biasa. Terus terang pemerintah kurang pembinaan di situ. Bagaimana petani ini dididik supaya dia melaksanakan good agricultural practices. Praktek pertanian teh yang baik yang menghasilkan teh berkualitas. Tidak hanya sekedar dikasih buku, habis itu selesai. Adakan pelatihan supaya hasilnya itu bagus, kayak Jepang, China," kata Arys.

"Inilah yang menjadi keprihatinan kita, karena masa depan teh ini kan tergantung masa depan generasi berikutnya. Makanya kita adakan acara-acara seperti ini, bahwa teh dari produk petani itu bisa menghasilkan teh yang berkualitas tinggi dan sangat enak," sambungnya.

Disinggung soal ekspor, di Indonesia kata dia didominasi oleh perusahaan milik negara seperti PTPN. Dimana mereka menghasilkan produk teh hitam, karena ada dukungan alat yang mumpuni, dengan pasar di kawasan Timur Tengah.

Sementara teh hasil petani masih berupa teh hijau, karena keterbatasan alat dalam pengolahan lanjutan.

"Karena kalau teh hitam itu dari petani kesulitan untuk membuat. Belum ada kemampuan di situ membuat teh hitam, belum bisa karena mesinnya yang terlalu mahal," terangnya.

Arys berharap, melalui Tea Fest 2025 ini mampu memantik minat masyarakat dan pemerintah, untuk lebih peduli lagi terhadap produk teh, khususnya khas jawa barat.***


Editor : JakaPermana