Atalia Praratya Kecam Lagu Bupati Purwakarta, Dinilai Rendahkan Perempuan
Sebut merusak pola pikir, Atalia Praratya kritik lagu Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (Om Zein) karena dinilai langgengkan budaya patriarki.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Media sosial tengah dihebohkan oleh kritik keras yang dilayangkan Anggota DPR RI, Atalia Praratya, terhadap sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.
Melalui akun Instagram resminya @ataliapr, anggota DPR yang membidangi urusan pemberdayaan perempuan ini secara terbuka menyatakan kekecewaannya yang mendalam terhadap narasi lirik lagu tersebut.
Menurut Atalia Praratya lagu yang diunggah di akun TikTok @omzein_bupatiaing pada 19 Januari 2026 itu dinilai tidak menghormati kaum perempuan.
Kronologi Kritik Atalia Praratya Terhadap Lagu Om Zein
Berdasarkan unggahan tersebut, Atalia Praratya mengunggah ulang cuplikan video klip lagu tersebut dengan menyematkan kalimat tegas: "Bukan sekedar karya, tapi cermin pola pikir yang merusak."
Dalam caption unggahannya, Atalia mengekspresikan rasa tidak habis pikirnya setelah mendengarkan dan memaknai lirik lagu ciptakan sang kepala daerah.
"Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia.
Dinilai Bertolak Belakang dengan Nilai Kebudayaan Sunda
Atalia menyayangkan pemilihan narasi lirik yang dianggap kontroversial tersebut. Menurutnya, Bahasa Sunda memiliki kekayaan kata yang indah dan pesan kehidupan yang luhur, yang seharusnya bisa diangkat menjadi sebuah karya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa karya tersebut mencederai nilai-nilai dasar falsafah kebudayaan Sunda yang luhur.
Selain itu, Atalia mengingatkan kembali prinsip Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wawangi yang menjadi fondasi budaya Sunda.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan Sunda tidak pernah mengajarkan masyarakatnya untuk menertawakan beban biologis yang dipikul oleh seorang perempuan.
Sebagai tokoh yang aktif memperjuangkan hak-hak perempuan, Atalia menyayangkan munculnya narasi yang dianggap bias gender dan melanggengkan budaya patriarki, terlebih karya ini lahir dari seorang pejabat publik atau kepala daerah.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?.." lanjut Atalia dalam unggahannya.
Di akhir pernyataannya, Atalia Praratya menutup dengan kalimat penegas yang kuat mengenai identitasnya, "Atalia Praratya, Saya perempuan," sembari melempar diskusi ini kepada netizen untuk meminta pandangan mereka.
Hingga saat ini, unggahan tersebut terus menuai beragam reaksi, komentar, dan menjadi sorotan hangat di kalangan masyarakat Jawa Barat. Belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak Om Zein terkait kecaman ini.
Editor : Firda Rachmawati

