Atasi Krisis Sampah, Wakil Ketua DPRD KBB Bakal Adopsi Gerakan Eco-Enzyme dan Teba Modern di Bali
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), Asep Dedi, bersama Komisi III melakukan kunjungan kerja ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangli, Bali, untuk mempelajari solusi inovatif dalam mengatasi persoalan sampah dan kerusakan lingkungan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), Asep Dedi, bersama Komisi III melakukan kunjungan kerja ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangli, Bali, untuk mempelajari solusi inovatif dalam mengatasi persoalan sampah dan kerusakan lingkungan.
Kunjungan ini difokuskan pada dua program unggulan: Gerakan Eco-Enzyme untuk pemulihan danau dan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber melalui "Teba Modern".
Desa Panglipuran, yang diakui UNESCO sebagai salah satu desa terbersih ketiga di dunia, menjadi salah satu tujuan utama kunjungan.
Di sana, rombongan mempelajari konsep "Teba Modern", sebuah sistem pengelolaan sampah organik mandiri yang diterapkan di setiap rumah tangga dan instansi pemerintah.
Pria yang akrab disapa Kang Asep Dedi menjelaskan, setiap instansi dan rumah di Bangli memiliki Teba Modern. Sampah organik dikumpulkan dan dikomposkan selama minimal satu tahun, lalu dimanfaatkan untuk penghijauan.
"Sistem ini juga mencakup pemilahan sampah yang ketat dan integrasi dengan Bank Sampah, sehingga mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA," kata Asep Dedi, Minggu 2 November 2025.
Eco-Enzyme: Solusi Pemulihan Danau Batur
Rombongan juga mengunjungi Danau Batur untuk melihat langsung implementasi Gerakan "Gertak Eco-Enzyme Bangli Bisa".
Kang Asep Dedi menjelaskan, Eco-enzyme ini merupakan cairan hasil fermentasi limbah dapur organik dan digunakan untuk membersihkan dan memulihkan kualitas air danau.
"Gerakan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, dari ASN hingga komunitas. Mereka memproduksi dan menuangkan eco-enzyme ke Danau Batur," katanya yang juga Ketua DPC PKB KBB ini.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya membersihkan danau, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah organik.
Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk mendorong implementasi model serupa di Kabupaten Bandung Barat, terutama untuk mengatasi masalah pencemaran sungai Citarum dan Waduk Saguling.
"Konsep eco-enzyme sangat potensial untuk rehabilitasi air, sementara Teba Modern bisa menjadi solusi pengelolaan sampah di kantor pemerintah dan sekolah," ujarnya.
Tak cuma itu, sebut Kang Asep Dedi, bakal mengajukan beberapa rekomendasi konkret, antara lain penerbitan Peraturan Bupati tentang pengelolaan sampah berbasis sumber.
Kemudian, pembangunan Teba Modern atau modifikasi menggunakan biopori dan komposter di lingkungan OPD, sosialisasi dan pelatihan massal pembuatan eco-enzyme untuk masyarakat dan memperkuat kolaborasi dengan Bank Sampah yang sudah ada.
"Kunjungan kerja ini diharapkan menjadi awal transformasi pengelolaan lingkungan dan sampah di Bandung Barat, mengadopsi kearifan dari Bali untuk mewujudkan Bandung Barat yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan," pungkasnya. ***
Editor : JakaPermana

