Sarimukti Diprediksi Penuh Akhir 2026, Jabar Siapkan Strategi Hadapi Krisis Sampah
TPPAS Sarimukti diprediksi penuh akhir 2026. Pemprov Jabar menyiapkan pemadatan, pirolisis, 25.000 mahasiswa hingga strategi memperpanjang Sarimukti sampai 2029
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Jawa Barat tengah menghadapi ancaman Krisis Sampah seiring Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, diperkirakan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan lapangan, kapasitas TPPAS Sarimukti semakin mendekati batas maksimal.
“Posisi terakhir sudah kami perkirakan bulan Oktober ini penuh. Akhir tahun inilah, akhir tahun ini Sarimukti itu penuh, firm. Kami sudah cek lapangan,” kata Herman.
Pemprov Jabar Perpanjang Operasional Sarimukti
Menghadapi kondisi tersebut, Pemprov Jabar menyiapkan sejumlah langkah untuk memperpanjang masa operasional TPPAS Sarimukti.
Salah satunya melalui pemadatan sampah atau compacting yang akan dilakukan hingga Desember 2026 dengan melibatkan ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Tiga bulan ini akan di-treatment, salah satunya di-compacting. Tentu dengan apa? Dengan teknologi yang akuntabel karena ada gas metana,” ujarnya.
Herman mengatakan, metode dan teknis pemadatan masih menunggu hasil kajian ITB. Setelah kajian selesai, Pemprov Jabar akan menyiapkan alat berat dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Selain pemadatan, Pemprov Jabar juga menyiapkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah lama di Sarimukti.
Instalasi tersebut ditargetkan terpasang pada akhir 2026 dan mulai beroperasi pada 2027. Teknologi pirolisis itu ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah lama per hari menjadi solar.
“Bagaimana sampah-sampah lama itu diolah, per harinya 1.000 ton menjadi solar,” ujarnya.
25.000 Mahasiswa Dikerahkan Kurangi Sampah dari Hulu
Herman menegaskan, solusi di hilir saja tidak cukup. Pemprov Jabar juga menggenjot pengurangan sampah dari sumbernya, mulai dari rumah tangga, tempat usaha, perkantoran hingga lingkungan permukiman.
Untuk menjalankan strategi tersebut, Pemprov Jabar menggandeng 90 perguruan tinggi dan menyiapkan 25.000 mahasiswa yang akan diterjunkan ke wilayah Bandung Raya mulai Oktober 2026.
“Dan kita sudah membangun agreement dengan 90 perguruan tinggi. Bulan Oktober ini, dan kami sudah laporkan ke Pak Gubernur, bulan Oktober ini akan menurunkan 25.000 mahasiswa,” tutur Herman.
Para mahasiswa akan menjalankan pengabdian masyarakat selama tiga bulan dengan konversi 10 SKS.
Mereka akan bekerja bersama pemerintah daerah, Pramuka, TNI, serta unsur masyarakat untuk mengedukasi warga agar mengurangi, memilah, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah.
Targetnya, volume sampah dari hulu dapat ditekan hingga 20 persen dan pemilahan sampah meningkat dua kali lipat.
Target tersebut mengacu pada uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, yang melibatkan 500 mahasiswa Unisba selama tiga bulan.
“Hasilnya selama tiga bulan bisa mengurangi sampah 20 persen, bisa meningkatkan pilah-pilih dua kali lipat,” kata Herman.
Pengurangan 20 Persen Bisa Tekan 1.000 Ton Sampah
Program tersebut kemudian akan direplikasi di 52 kecamatan di Bandung Raya.
Jika produksi sampah Bandung Raya mencapai sekitar 5.000 ton per hari, pengurangan sebesar 20 persen setara dengan sekitar 1.000 ton sampah yang tidak perlu masuk ke tempat pemrosesan akhir.
“Berarti 1.000 ton. Ini kan luar biasa, 1.000 ton,” ucapnya.
Di tingkat tengah, Pemprov Jabar juga mendorong optimalisasi berbagai fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia.
Fasilitas tersebut mulai dari TPS 3R, incinerator, RDF, compost pit, Loseda hingga pengolahan menggunakan maggot.
Herman: Persoalan Sampah Bukan Sekadar Teknologi
Herman menilai persoalan sampah bukan semata-mata persoalan teknologi. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci agar sistem Pengelolaan Sampah dapat berjalan efektif.
“Saya tahu persis lah, sakumaha hebat teknologi, tetap kuncinya ada di human capital, ada di sumber daya manusia,” tuturnya.
Karena itu, strategi Pemprov Jabar diarahkan pada dua pendekatan sekaligus, yakni rekayasa teknologi dan perubahan perilaku masyarakat.
“Makanya sekarang strategi provinsi, teknologi engineering di satu sisi kita hajar terus. Tapi di sisi lain, social engineering,” katanya.
Sarimukti Ditargetkan Bertahan hingga 2029
Untuk jangka lebih panjang, Pemprov Jabar juga menyiapkan pembangunan gravity wall di dua lokasi Sarimukti pada 2027.
Infrastruktur tersebut diharapkan menambah ruang sehingga usia operasional TPPAS Sarimukti dapat diperpanjang.
“Target kami, mau tidak mau dan suka tidak suka, karena tidak ada solusi lain. Bagaimana Sarimukti kami bisa perpanjang sampai Desember 2029,” ujar Herman.
Target tersebut disiapkan sebagai jembatan menuju beroperasinya fasilitas Waste-to-Energy atau PSEL Legok Nangka pada awal 2030.
Herman mengingatkan, tanpa langkah cepat dan menyeluruh, Bandung Raya berisiko menghadapi penumpukan sampah.
“Karena risikonya kalau tidak dimitigasi, tidak diantisipasi, bisa terjadi ledakan sampah di Bandung Raya,” katanya.
Ia pun meminta seluruh pihak mengambil bagian dalam penanganan sampah dan tidak hanya mengandalkan pemerintah.
“Pemda sudah bergerak, perguruan tinggi bergerak, Pramuka bergerak. Ayo masyarakat juga,” ujar Herman.
Menurut Herman, pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya agar beban TPPAS Sarimukti dapat ditekan.
“Pokoknya sampah kudu dikurangi, dimanfaatkan, didaur ulang,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

