Ayo Berkunjung ke Perpustakaan Outdoor dan Mengenal Sejarah Tanaman Kina di Sabda Desa Edupark Pangalengan

Membaca buku di ruangan itu lumrah. Tapi, di Sabda Desa Edupark Pangalengan pengalaman berbeda dengan perpustakaan outdoor dan edukasi kina.

Ayo Berkunjung ke Perpustakaan Outdoor dan Mengenal Sejarah Tanaman Kina di Sabda Desa Edupark Pangalengan
Tak hanya mengandalkan perpustakaan outdoor dengan suasana luar ruangan sebuah taman bunga yang indah dan asri, di Sabda Desa Edupark Pangalengan itu pun setiap pengunjung bisa mendapatkan edukasi tentang sejarah perkebunan kina di Indonesia.

INILAHKORAN, Bandung - Membaca buku di ruangan itu lumrah. Tapi, di Sabda Desa Edupark Pangalengan pengalaman berbeda bakal tersaji dengan perpustakaan outdoor dan edukasi kina.

Tak hanya mengandalkan perpustakaan outdoor dengan suasana luar ruangan sebuah taman bunga yang indah dan asri, di Sabda Desa Edupark Pangalengan itu pun setiap pengunjung bisa mendapatkan edukasi tentang sejarah perkebunan kina di Indonesia.

"Minat baca masyarakat khususnya anak-anak terus menurun. Mungkin ini dipengaruhi kehadiran smartphone. Nah, salah satu terobosan yang kami lakukan adalah membuat perpustakaan outdoor, dimana pengunjung yang datang bisa membaca buku di dalam taman bunga, sekaligus mengetahui sejarah perkebunan kina di Indonesia atau Hindia Belanda. Sejarah ini sangat penting karena waktu itu Indonesia sebagai pemasok 90 persen kebutuhan kina dunia," kata Pengelola Sabda Desa Edupark Pangalengan Asep Samsudin di Kampung Cinyiruan Desa/Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Selasa 2 Agustus 2022.

Baca Juga: Tanggapi Bansos Presiden yang Dikubur dalam Tanah di Depok, Mensos Risma: Bukan Zaman Saya

Menurutnya, perpustakaan outdoor di Sabda Desa Edupark Pangalengan itu memiliki kurang lebih 1.000 eksemplar buku dengan berbagai judul. Buku bacaan ini, sengaja disimpan dalam sebuah tempat yang menyerupai kotak telepon umum jaman dulu seperti yang ada di negara Inggris. Tujuannya, tempat buku yang dinamakan Kolecer alias Kotak Literasi Cerdas itu agar pengunjung yang datang tertarik untuk membaca buku.

"Paling tidak pengunjung yang datang itu mau berswapoto (selfie) dulu dengan buku dengan latar penyimpanannya yang unik. Kemudian tertarik untuk membacanya. Dengan cara ini Alhamdulilah ada harapan, ini dilihat dari jumlah kunjungan yang ada terus lah walaupun enggak terlalu banyak," ujarnya.

Asep menjelaskan, di taman ini juga kental dengan nuansa sejarah perkebunan kina di Pangalengan. Selain masih terdapat beberapa pohon kina, di tempat ini juga terdapay tugu penanda perkebunan kina yang usianya lebih dari 100 tahun.

Baca Juga: Sempat Tercemar Hingga Berwarna Hitam, Kondisi Situ Dua Ciburuy di KBB Berangsur Pulih

Bahkan, terdapat juga makam seorang botanis kina terakhir yakni Gerald Alfred Cup. Tak hanya itu saja di taman ini juga dibangun patung seorang botanical perintis perkebunan Kina di Pangalengan dan Lembang pada masa Hindia Belanda, yakni Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn.

"Kami juga ingin merawat dan memelihara sejarah. Bahwa disini pernah berdiri perkebunan kina yang memasok 90 persen kebutuhan dunia. Bahkan, tanaman atau daun kina ini sampai sekarang masih menjadi logo Kabupaten Bandung. Perkebunan kina itu dirintis oleh Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn di Bukit Tunggul Lembang dan di Pangalengan ini," ujarnya.

Untuk menarik minat pengunjung, lanjut Asep, Sabda Desa Edupark Pangalengan ini juga terdapat Cinyiruan Secret Zoo atau kebun binatang mini. Di kebun binatang mini ini juga ada edukasi tentang nyiruan yang dalam Bahasa Indonesia artinya lebah.

Baca Juga: PTM di Cimahi Terancam Ditutup, Jika Kasus Covid 19 Melebihi 5 Persen

Pengunjung dikenalkan dengan tata cara budidaya lebah dan kebiasaan hidup lebah yang banyak ditemukan di Kampung Cinyiruan. Tak hanya itu saja, pengunjung yang hobi kemping, pengelola tempat ini juga menyediakan camping area.

Bagi pengunjung yang memerlukan informasi mengenai sejarah kina, pengelola tempat ini dengan senang hati memberikan penjelasan dan mengantar pengunjung ke situs heritage di tempat itu.

"Ini juga terkait dengan sejarah kenapa kampung ini dinamakan Cinyiruan. Karena memang banyak nyiruan, nyiruan atau lebah ini sangat suka dengan nektar dari tanaman Kina. Nah ini juga yang tengah kami upayakan untuk mengembalikan nyiruan di tempat ini," katanya.

Baca Juga: Belum Merdeka, Rahcmat Yasin Diwajibkan Lapor ke Bapas 2 Minggu Sekali

Menurut Asep, Sabda Desa Edupark Pangalengan yang dikelola bersama oleh masyarakat Pangalengan itu, didirikan pada 2020 lalu. Biasanya, taman ini ramai dikunjungi siswa sekolah TK dan SD.

Mereka seringkali datang rombongan dan membuat berbagai kegiatan di taman ini. Selain dari kalangan siswa sekolah, banyak juga pengunjung umum yang ingin bersantai melepas penat di tempat ini. Karena harga tiket masuknya cukup terjangkau, maka tak heran jika Sabda Desa Edupark Pangalengan ini selalu ramai dikunjungi.

"Tujuan kami ingin mengenalkan dan mengedukasi masyarakat soal kehidupan di desa. Serta memelihara heritage sejarah Kina agar selalu dikenang masyarakat," ujarnya. (Dani R Nugraha)


Editor : inilahkoran