Bandung Barat di Bawah Ancaman Bencana, Kalak BPBD Ungkap Sejumlah Titik Rawannya
Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, dan Tanah Longsor telah ditetapkan di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, dan Tanah longsor telah ditetapkan di Kabupaten bandung barat (KBB).
Diketahui, Surat Keputusan (SK) Bupati Bandung Barat Nomor 100.3.3.2/Kep.359-BPBD/2025, yang ditandatangani oleh Bupati Jeje Ritchie Ismail pada 1 Oktober 2025, menjadi dasar dari langkah antisipasi ini.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, Asep Sehabudin menjelaskan, keputusan ini diambil berdasarkan prediksi BMKG terkait curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan bencana alam di seluruh 16 kecamatan di KBB.
"Status Siaga Darurat Bencana ini berlaku sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan," kata Asep saat ditemui, Senin 1 Desember 2025.
Tak cuma itu, Asep juga menyoroti dua desa yang menjadi perhatian utama, yaitu Desa Sukamanah di Kecamatan Rongga dan Desa Cintaasih di Kecamatan Cipongkor.
"Di Desa Sukamanah, kami melihat adanya pergerakan tanah yang signifikan. Sementara di Desa Cintaasih, pergerakan tanah yang terjadi pada tahun 2020 kembali aktif dan semakin meluas, mencapai lebar setengah meter," jelasnya.
"Kondisi ini tentu sangat membahayakan warga setempat," ucapnya.
Menurutnya, proses relokasi warga terdampak bencana juga menjadi persoalan krusial. Pasalnya relokasi 40 KK warga terdampak longsor di Desa Cibedug, Rongga, yang masih terkendala masalah lahan.
"Kami terus berupaya mencari solusi untuk masalah lahan ini agar warga bisa segera direlokasi ke tempat yang lebih aman," tuturnya.
Sementara itu, lanjut Asep, untuk warga terdampak bencana di Desa Cibenda, Cipongkor, Pemerintah Daerah KBB melalui Dinas Perkim berencana membebaskan lahan yang aman secara geologis untuk dijadikan permukiman baru.
"Pembebasan lahan akan kami lakukan, namun pembangunannya akan didukung oleh APBN. Kontur tanah di lokasi itu tidak layak lagi untuk dijadikan permukiman karena kondisi tebing yang labil," bebernya.
Dalam upaya mitigasi bencana, Asep mengakui, BPBD KBB menghadapi keterbatasan personel lantaran hanya memiliki 45 personel, idealnya 150 orang.
"Oleh karena itu, kami akan memaksimalkan peran relawan dan Desa Tangguh Bencana (Destana)," kata Asep.
Selain itu, lanjut Asep, dana BTT sebesar Rp30 miliar juga disiapkan untuk penanganan bencana yang membutuhkan respons cepat.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat KBB untuk selalu waspada saat hujan deras turun dan segera mencari tempat berlindung yang aman.
"Kami juga meminta masyarakat untuk segera melaporkan potensi bencana kepada petugas agar dapat segera ditangani dan menghindari jatuhnya korban jiwa," tegasnya.***
Editor : Ahmad Sayuti
