Kota Cimahi Siaga Total Hingga Februari 2026, Lebih dari 100 Bencana Terjadi di Tahun 2025
Menanggapi risiko bencana yang cukup tinggi, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi telah menetapkan status siaga bencana geohidrometeorologi yang berlaku sejak September 2025 hingga Februari 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Menanggapi risiko bencana yang cukup tinggi, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi telah menetapkan status siaga bencana geohidrometeorologi yang berlaku sejak September 2025 hingga Februari 2026.
Langkah tersebut membuat seluruh aspek penanggulangan bencana di Kota Cimahi menjadi lebih sigap, mulai dari armada, logistik, hingga personel yang siap bergerak kapan saja.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan mengungkapkan bahwa siaga yang ditingkatkan juga melibatkan komunitas relawan masyarakat yang telah dibina khusus.
"Semua aspek lebih sigap dari keadaan biasa. Tidak hanya pihak pemerintah, komunitas relawan juga siap berperan aktif dalam penanggulangan kejadian bencana," kata Fithriandy.
Fithriandy menilai bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana.
"Yang paling penting adalah siaga masyarakat dan kesiapan antisipasi akan potensi bencana di wilayah masing-masing," tambahnya.
Data menunjukkan bahwa risiko bencana di Cimahi memang tidak bisa dianggap remeh. Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 saja, tercatat sekitar 120 kejadian bencana, yang mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi.
"Situasi ini tidak terlepas dari kondisi Kota Cimahi yang memiliki luas wilayah terbatas namun dihuni lebih dari 600 ribu jiwa di tiga kecamatan dan 15 kelurahan," kata Adhitia.
"Tingkat kepadatan penduduk mencapai sekitar 14 ribu jiwa per kilometer persegi, yang berdampak pada menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan," jelasnya.
Menurutnya, ketika keseimbangan alam terganggu, potensi terjadinya bencana akan semakin besar.
Oleh karena itu, pendekatan penanggulangan bencana juga harus berubah.
"Penanggulangan bencana tidak lagi dapat berfokus pada penanganan saat kejadian semata. Melainkan harus diperkuat melalui upaya mitigasi yang berkelanjutan," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti
