Bela Muslim Uighur, Klub Bundesliga Batal Bangun Akademi di China
Klub Bundesliga Jerman, FC Koln, mengambil sikap tegas dengan membatalkan rencana pembangunan akademi sepakbola di Cina. Langkah tersebut sebagai bentuk kecaman terkait perlakuan pada muslim Uighur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Koln - Klub Bundesliga Jerman, FC Koln, mengambil sikap tegas dengan membatalkan rencana pembangunan akademi sepakbola di Cina. Langkah tersebut sebagai bentuk kecaman terkait perlakuan pada muslim Uighur.
Keputusan tersebut diambil setelah melihat dinamika yang terjadi antara Arsenal dengan Mesut Ozil. The Gunners diketahui menjaga jarak dari Ozil setelah pemain berdarah Turki itu mencuitkan soal perlakuan Pemerintah Cina pada muslim Uighur di Xinjiang, Cina.
Cuitan Ozil di Twitter berujung pada pemblokiran siaran langsung laga Arsenal vs Manchester City pada akhir pekan kemarin. Tak sampai di situ, Cina juga menghapus kata Ozil dalam mesin pencari dan media sosial Weibo.
Banyak yang meyakini langkah yang diambil Arsenal sebagai main aman guna menjaga keberlangsungan rencana bisnis mereka di pasar Asia terutama di Cina.
Berbeda dengan Arsenal, FC Koln justru berani mengambil langkah tegas dengan membatalkan rencana membangun akademi sepakbola di Cina. Ini merupakan bentuk protes atas kediktatoran Pemerintah Cina yang membatasi hak asasi muslim Uighur.
Sebelumnya, FC Koln berencana menjalankan proyek pembangunan akademi sepakbola senilai 1,8 juta Euro (28 miliar Rupiah) di Cina pada musim panas mendatang. Proyek ini merupakan bagian dari strategi bisnis klub di benua kuning.
"Saya memahami bahwa Jerman tidak sepenuhnya bebas dari Cina dan ada transaksi antar kedua negara, tetapi kami tidak membutuhkan Cina dalam olahraga dan saya tetap dalam pendirian itu," kata salah satu pembesar FC Koln, Stefan Muller-Romer, dikutip dari The Guardian.
"Saya berpendapat bahwa FC Koln tidak boleh aktif di sana (Cina). Sebab, ada banyak hal lebih penting dari uang," ia menambahkan.
Langkah Pemerintah Cina mengumpulkan muslim Uighur di kamp-kamp vokasi di wilayah barat laut menuai kontroversi. Mereka berdalih program tersebut sebagai bagian deradikalisasi serta memberi bekal keterampilan bagi muslim Uighur.
Namun, dari laporan yang ditulis media Amerika Serikat, Wall Street Jurnal (WSJ), para muslim Uighur tersebut direnggut kebebasannya dalam menjalankan ritual keagamaan selama berada di dalam kamp vokasi. (Inilahcom)
Editor : Bsafaat

