Benny Bachtiar Ungkap Runtuhnya Atap Gedung YPK Telah Terprediksi Sebelumnya

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Benny Bachtiar mengungkapkan runtuhnya atap Gedung YPK pada Senin 28 Oktober silam sejatinya telah terprediksi sebelumnya.

Benny Bachtiar Ungkap Runtuhnya Atap Gedung YPK Telah Terprediksi Sebelumnya
Benny Bachtiar mengatakan, Pemprov Jabar melalui Disparbud telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengalokasikan anggaran dalam pemeliharaan Gedung YPK sebagai cagar budaya tersebut. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Benny Bachtiar mengungkapkan runtuhnya atap Gedung YPK pada Senin 28 Oktober silam sejatinya telah terprediksi sebelumnya.

Benny Bachtiar mengatakan, Pemprov Jabar melalui Disparbud telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengalokasikan anggaran dalam pemeliharaan Gedung YPK sebagai cagar budaya tersebut.

Hanya saja, diakui Benny Bachtiar, pemeliharaan Gedung YPK belum dapat dilaksanakan karena terbentur program lain dan kondisi keuangan APBD Pemprov Jabar yang terbatas.

"Sebetulnya kami berupaya semaksimal mungkin mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan. Namun kita tarik menarik dengan kegiatan lain. Tapi kita memahami, kondisi keuangan daerah sangat terbatas. Jadi melakukan rehabilitasi maksimal tidak bisa kita lakukan. Jadi akhirnya tambal sulam. Yang akhirnya dikhawatirkan seperti ini," ujar Benny di Gedung YPK, Minggu 3 November 2024.

Benny melanjutkan, sejak beberapa waktu lalu pihaknya telah berupaya mengantisipasi, dengan ingin menutup sementara Gedung YPK.

Namun karena adanya tuntutan dari pelaku seni dan budaya, agar tetap diperbolehkan pemakaian Gedung YPK, akhirnya tetap diizinkan.

"Kita sudah antisipasi dari delapan bulan ke belakang. Saya sudah kasih tau ke pemakai, ada konsekuensi kalau dipakai. Kita sudah mau menutup karena khawatir. Tapi karena pelaku seni budaya memaksa, memang butuh. Mau tidak mau kami izinkan," ucapnya.

Seiring dengan adanya kejadian ini, pemeliharaan bangunan terutama cagar budaya akan menjadi prioritas. Supaya kejadian serupa tidak lagi terulang.

"Dengan kejadian seperti ini, mudah-mudahan menjadi catatan buat kami semua. Bahwa pemeliharaan menjadi hal penting, dalam upaya menjaga jangan sampai terjadi sesuatu yang diinginkan," imbuhnya.

Benny mengaku telah meminta DPRD Jabar untuk mendukung, agar cagar budaya yang berada di kewenangan Pemprov dapat direhabilitasi.

"Saya sudah bicara ke Pak Ketua Dewan (Buky Wibawa) untuk di support, karena beberapa bangunan cagar budaya juga milik kami yang perlu direhabilitasi," tuturnya.

Bangunan yang berdiri sejak 1930 dan pernah menjadi Kantor Redaksi Media Medan Prijaji ini sambung Benny, pada kisaran 2019-2020 lalu sempat mendapatkan perbaikan di bagian atap, yang kini runtuh.

Namun dirinya tidak mengetahui secara rinci, terkait perbaikan perbaikan bagian atap pada saat itu.

"Informasinya betul demikian. Saya masuk (Disparbud) 2021. Konon sudah pernah diperbaiki. Saya lihat struktur dalam, kelihatan semua (sudah) diperbaiki. Tapi saya enggak bisa komentar banyak (atap runtuh)," kata dia.

Sementara mengenai perbaikan yang harus dilakukan saat ini, dia mengatakan berdasarkan assesment dari Disperkim Jabar, diperkirakan akan menghabiskan anggaran sebanyak Rp400 juta.

Dimana perbaikan ini hanya bersifat sementara, karena berdasarkan rekomendasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Gedung YPK harus dipugar total.

"Ini masih dihitung. Informasi dari Perkim dari BTT minimal Rp400 juta. Tapi ini masih kemungkinan naik atau turun, karena dari hasil rapat ada perubahan," ucapnya.

Dia berharap, perbaikan tidak hanya di Gedung YPK, tetapi di cagar budaya milik Pemprov Jabar lainnya, supaya tidak membahayakan pengunjung.

"Tidak hanya ini, tempat lain juga harus diperhatikan. Jangan sampai terjadi juga," tutupnya.


Editor : Doni Ramdhani