BI Jabar Prediksi Pilpres 2024 Berikan Dampak Positif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Kepala Bank Indonesia atau BI Jabar Erwin Gunawan Hutapea menyatakan, tahun politik dengan adanya penyelenggaraan Pilkada dan Pilpres 2024 akan meningkatkan pengeluaran atau konsumsi pemerintah di Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Bank Indonesia atau BI Jabar Erwin Gunawan Hutapea menyatakan, tahun politik dengan adanya penyelenggaraan Pilkada dan Pilpres 2024 akan meningkatkan pengeluaran atau konsumsi pemerintah di Jabar.
Menurutnya, BI Jabar memperkirakan peningkatan biasanya terjadi sejak 1 triwulan sebelum periode Pemilu, Pilkada, dan Pilpres 2024 berlangsung dengan tingginya pengeluaran untuk perlengkapan dan persiapan penyelenggaraan hajatan demokrasi lima tahunan itu.
"Pengeluaran pemerintah (pada Pemilu, Pilkada, dan Pilpres 2024) tersebut memberikan efek peda sektor ekonomi lain seperti sektor industri dan perdagangan dan sektor lainnya," kata Kepala BI Jabar Erwin Gunawan Hutapea dalam Dialog Ekonomi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) bertema "Membangun Optimisme Ekonomi di Musim Kontestasi: Menelisik Tantangan dan Peluang ke Depan" di Savoy Homan Hotel, Selasa 18 Juli 2023.
Erwin menambahkan, Pilpres 2024 memberi dampak berbeda dimana tahun 2014 dan 2019 berdampak positif. Sedangkan, dalam Pilkada justru berdampak negatif. Hal itu karena diselenggarakan dalam waktu yang berbeda dengan jeda cukup lama.
Untuk itu, dia memprediksi Pilkada dan Pilpres 2024 yang diadakan bersamaan tahun 2024 diperkirakan dampak positifnya lebih besar dibandingkan dampak negatifnya karena diselenggarakan hampir bersamaan.
Banyak sektor ekonomi yang tumbuh memanfaatkan momen politik 2024. Dia juga yakin masyarakat saat ini sudah semakin matang dalam menjalani Pilpres atau Pilkada dan jauh lebih kuat.
Indikasinya, bangsa ini diakuinya mampu melewati pandemi Covid-19 yang jauh lebih berat memberikan tekanan pada kondisi ekonomi nasional dan global.
"Historis 2014 dan 2019, kita bisa melewati tahun politik dengan baik, ekonomi juga bisa tumbuh positif," tegasnya.
Apalagi saat ini kondisi ekonomi terlihat membaik. Terlihat dari kondisi perekonomian nasional tumbuh 5,03% (yoy) pada triwulan 1 2023, sementara perekonomian Jawa tumbuh 4,96% (yoy). Dimana perekonomian Jabar berkontribusi 22,35% terhadap perekonomian Jawa.
Ke depan, menurutnya perlu ada keseimbangan sektor industri padat modal dan padat karya. Karena kondisi saat ini masih belum imbang, dimana padat modal masih sekitar 66,3 persen.
Sektor Industri padat modal pada umumnya adalah industri besar (alat angkut, barang logam) sedangkan sektor industri padat kaya pada umumnya adalah industri kecil (makanan, tekstil dan pakaian jadi).
Industri padat modal memiliki nilai tambah lebih tinggi yang sebagian besar berada di Jabar Utara dan kota Bandung sehingga memberikan kontribusi pendapatan regional lebih tinggi.
Untuk meningkatkan keseimbangan kesejahteraan masyarakat maka diperiukan keseimbangan antara industri padat sebaran industri besar dan sedang.
Serupa dengan itu, Direktur Eksekutif Surveilans Pemeriksaan Statistik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Priyanto Budi Nugroho menyebutkan kontestasi politik Pilpres 2024 dan Pilkada diprediksi tidak akan memberikan pengaruh negatif pada pertumbuhan ekonomi nasional dan juga di daerah. Bahkan jika mampu melihat peluang, sektor ekonomi akan tumbuh positif tahun depan.
Dia memaparkan, hal yang perlu lebih diwaspadai yakni risiko perlambatan ekonomi global. Sebab OECD memperkirakan ekonomi global akan tumbuh 2,7% pada 2023 dan 2,9% pada 2024, lebih rendah dari pertumbuhan 2022 sebesar 3,2%.
Isu inflasi masih membebani pemulihan ekonomi. OECD memproyeksikan inflasi kawasan akan berada di level 6,6% pada 2023 kemudian melandai ke level 4,3% pada 2024. Kendati demikian, inflasi inti diperkirakan masih persisten tinggi.
Risiko tambahan yang perlu diwaspadai antara lain ancaman resesi, fragmentasi geopolitik, peningkatan beban utang dan isu climate change. Kondisi lokal sendiri sejauh ini diakuinya masih cukup baik.
Kinerja perekonomian domestik tumbuh cukup kuat. Q1 2023 ekonomi tumbuh 5,03% (yoy). OECD memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,7% pada 2023 dan 5,1% pada 2024, stabil dibanding proyeksi periode Maret 2023.
Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia (IKK; 127,1), indeks Penjualan Retail (IPR; 223,2) berada dalam zona optimis hingga Juni 2023 sementara indeks Kepercayaan Konsumen LPS (109,1).
Kemudian aliran modal asing masih terus masuk ke pasar obligasi dan pasar saham hingga 14 Juli 2023 (Rp103,51 triliun ytd).
"Kita survive menghadapi pandemi Covid-19, sekarang sudah mulai pulih. Kita optimistis Akan kembali take off jika kontestasi politik ini berlangsung lancar, tentu tetap menjaga kewaspadaan terkait tahun politik ini," ujarnya Priyanto.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Unpad Prof Muradi mengatakan berdasarkan hasil survei beberapa lembaga survei menunjukan tidak akan muncul masalah genting pada kontestasi politik, baik Pilkada maupun Pilpres 2024.
"Menjelang dua bulan penetapan capres/cawapres ini tidak ditemukan indikator yang mengkhawatirkan," tegasnya seraya menyebutkan stabilitas politik ejauh ini relatif sangat terjaga.***
Editor : Doni Ramdhani

