SKANDAL sepak bola di Afganistan bikin geger dunia. Para pemain wanita, dipaksa bersetubuh sebagai 'tiket masuk' timnas .
Berita pelecehan di timnas sepak bola Afghanistan ini awalnya jadi headline di media ternama Inggris, Guardian, akhir November lalu. Mereka dapat keterangan dari eks kapten timnas putri Afghanistan, Khalida Popal.
Kebetulan, Popal sudah terusir dari negaranya dan sekarang tingal di Denmark.
"Mereka (Federasi Sepakbola Afghanistan) mengirim dua pria sebagai perwakilan, yang satu adalah 'Kepala Tim Wanita' dan seorang 'asisten pelatih'. Keduanya mem-bully dan melakukan kekerasan pada para pemain wanita, terutama yang datang dari Afghanistan karena mereka tahu wanita-wanita itu tak akan berani berbicara," kata Popal.
Popal menjelaskan, pelecehan seksual itu terjadi pada Februari 2018, atau tepatnya ketika timnas sedang training center di Jordan.
"Hal itu terus berlangsung. Pria-pria ini memanggil pemain ke kamar mereka dan tidur dengan mereka. Staff AFF (Asosiasi Sepakbola Afghanistan) ini bilang kalau mereka akan bisa memasukkan perempuan-perempuan itu ke dalam tim dan juga akan memberi mereka uang 100 pound sterling (sekitar Rp 1,8 juta) sebulan jika mereka mau melakukan apapun. Mereka (staff AFF) melakukan pemaksaan pada perempuan-perempuan ini," lanjut Popal.
Perlakuan biadab lainnya, lanjut Popal, adalah pencoretan sembilan pemain yang dikhawatirkan membocorkan kasus ini ke media. Federasi sepak bola Afghanistan (AFF) lalu melempar isu bahwa semua pemain yang dicoret itu lesbian.
"Karena beberapa dari mereka akan berbicara ke media, presiden (AFF) menyebut mereka lesbian untuk menutup mulut mereka. Supaya mereka tak berbicara soal pelecehan seksual di Jordan dan kekerasan yang dilakukan pelatih. Dia memukuli salah seorang pemain dengan tongkat biliar. Dia memukulinya dan menyebut si pemain sebagai lesbian dan ditendang dari federasi."
"Jika mereka membongkarnya, tak akan ada yang percaya karena dituduh lesbi atau gay di Afghanistan adalah sebuah topik yang tak Anda bicarakan. Dan itu membuat keluarga Anda dalam bahaya besar."
"Saya mencoba mencari perempuan-perempuan itu. Saya menemukan beberapa perempuan yang menderita kekerasan seksual, kekerasan fisik jika mereka menolak. Federasi akan mencari alasan untuk mengeluarkan mereka dari tim. Sehingga kalau perempuan itu berbicara ke publik, maka akan terlihat kalau mereka hanya kecewa gagal masuk skuat."
"Investigasi yang saya lakukan berlangsung setengah tahun. Dan ditemukan kekerasan fisik, kekerasan seksual, ancaman kematian, dan kasus perkosaan," papar Popal.