Bir Pletok Kyoramizu: Wedang Lawas Cita Rasa Modern

Diana Wirda mengubah bir pletok tradisional jadi minuman modern. Dari rumah produksi kecil, dia menjangkau pasar lokal bahkan potensial ekspor.

Bir Pletok Kyoramizu: Wedang Lawas Cita Rasa Modern
Rumah produksi sempit di Apartemen Buah Batu Park, Tower D, Kota Bandung, menjadi markas Diana Wirda. Tangannya cekatan meracik jahe, cengkeh, sereh, dan rempah lainnya. (doni ramdhani)

INILAHKORAN.ID - Diana Wirda mengubah bir pletok tradisional jadi minuman modern. Dari rumah produksi kecil, dia menjangkau pasar lokal bahkan potensial ekspor.

Rumah produksi sempit di Apartemen Buah Batu Park, Tower D, Kota Bandung, menjadi markas Diana Wirda. Tangannya cekatan meracik jahe, cengkeh, sereh, dan rempah lainnya. 

Di balik kesibukan itu, tersimpan impian besar: membawa bir pletok, minuman tradisional khas Betawi, menembus pasar ekspor.

“Kalau mau ekspor, ada banyak konsekuensi yang harus ditempuh. Misalnya meningkatkan kapasitas produksi dan mencari pengawet agar minuman lebih tahan lama,” kata Diana. Namun untuk saat ini, dia memilih fokus menaklukkan pasar lokal.

Sejak 2016, Diana konsisten menjalankan usahanya. Dengan model sederhana dan strategi pemasaran digital, bir pletok Kyoramizu kini bisa dinikmati konsumen di Cirebon, Purwakarta, Subang, Sukabumi, hingga Jakarta lewat sistem reseller. 

“Online bisa jangkau kota lain, tapi jumlah pesanan terbatas karena ongkir ditanggung konsumen,” jelasnya sambil menyiapkan rempah.

Kesetiaan Diana pada usahanya bukan sekadar karena pengalaman marketing. Manajemen keuangan yang rapi menjadi kunci bertahannya bisnis di tengah maraknya UMKM yang mudah tutup atau berganti haluan. 

Sebelum mendapatkan pelatihan dari PT Len Industri, pembukuan Diana amburadul karena mencampur keuangan pribadi dan bisnis. 

“Setelah belajar, laba jadi terlihat, dan pengelolaan modal lebih rapi,” ujarnya sambil tersenyum.

Dukungan PT Len Industri juga datang dalam bentuk modal Rp60 juta untuk membeli mesin giling, alat press tutup botol, dan lemari pendingin. 

“Sebelumnya hanya bisa produksi puluhan botol sehari, sekarang bisa 300–400 botol per hari,” kata Diana. Bantuan ini diperkuat dengan tenaga delapan pekerja dari warga sekitar, dibagi untuk produksi, kurir, admin, dan pemasaran.

Selain mengandalkan pemasaran digital, produk Diana kini hadir di ratusan kafe, hotel, restoran, dan pasar modern seperti Yogya, Griya, dan Borma, dengan harga Rp12 ribu per botol. 

Bahan baku selalu tersedia melalui mitra pemasok: jahe, kapul, cengkeh, sereh, lada hitam, cabe jawa, daun jeruk, daun pandan, bunga lawang, hingga kayu secang sebagai pewarna alami.

Diana juga menyiapkan inovasi: bir pletok versi less sugar untuk menjawab permintaan pasar yang lebih sehat, sambil tetap mempertahankan kemasan botol yang ramah lingkungan. Perizinan dan sertifikasi halal pun telah lengkap berkat dukungan Pemerintah Kota Bandung.

Tak hanya diminati konsumen dewasa, bir pletok kini mulai digemari anak muda. Rifki Rahmadani, content creator, menilai minuman herbal ini punya potensi besar. 

“Rasanya enak dan bermanfaat. Ini bisa jadi alternatif minuman sehat untuk anak muda,” katanya.

Diana pun terus melangkah, membuktikan minuman tradisional bisa bertahan di era modern, dengan inovasi, manajemen tepat, dan keberanian menembus batas pasar lokal. 

Dari rumah produksi sempit, bir pletok kini siap mengudara ke pasar yang lebih luas.


Editor : Doni Ramdhani