BMKG: Hujan Masih Mengintai Cisarua, Modifikasi Cuaca Dilakukan Puluhan Kali
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menyatakan potensi hujan di wilayah Cisarua dan sekitarnya masih tinggi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menyatakan potensi hujan di wilayah Cisarua dan sekitarnya masih tinggi dan diperkirakan bertahan hingga sepekan ke depan. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan cuaca pada hari sebelumnya, dengan peluang hujan ringan hingga lebat yang masih terus mengintai.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan bahwa wilayah tersebut saat ini berada pada puncak musim hujan, sehingga intensitas curah hujan cenderung meningkat dan sulit diprediksi secara stabil.
“Masih sama seperti kemarin. Sepekan ke depan potensinya masih sama, hujan ringan hingga lebat masih berpotensi untuk wilayah Cisarua ini khususnya,” ujar Teguh, Kamis (29/1/2026).
Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan semua pihak dalam menghadapi kondisi cuaca tersebut. Menurutnya, selain peran pemerintah dan instansi terkait, kewaspadaan masyarakat juga menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko bencana.
“Penguatan-penguatan dari berbagai sektor harus tetap ditingkatkan. Masyarakat juga tetap harus waspada,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak tanggal 24. Upaya tersebut terus dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan yang intens di wilayah pegunungan.
“Khusus untuk hari ini, dari pagi sampai sekarang sudah tiga kali penerbangan untuk area Burangrang. Pertumbuhan awannya memang cukup tinggi, sehingga ini sudah kita laksanakan semaksimal mungkin,” jelas Teguh.
Ia menambahkan, dalam satu hari modifikasi cuaca dilakukan minimal tiga kali penerbangan. Jika dihitung sejak pertama kali dilaksanakan pada 24 Januari 2026, jumlah penerbangan telah mencapai puluhan kali.
“Sudah lebih dari sepuluh kali. Kalau satu hari minimal tiga kali, tinggal dikalikan saja dari tanggal 24 sampai sekarang,” ungkapnya.
BMKG juga mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi sehari sebelum peristiwa longsor menjadi faktor utama terjadinya bencana. Berdasarkan catatan BMKG, curah hujan pada hari tersebut tercatat sangat tinggi.
“Sehari sebelum kejadian, hujan ekstrem dengan intensitas di atas 200 milimeter terjadi pada tanggal 23,” kata Teguh.
Menurutnya, jumlah tersebut setara dengan curah hujan yang biasanya turun selama satu bulan, namun terjadi hanya dalam waktu satu hari. Kondisi ini menyebabkan tanah dan lereng tidak mampu menahan beban air.
“Ibaratnya, hujan yang seharusnya turun sebulan, tumpah dalam satu hari. Sehingga bukit tidak mampu menampung kondisi tersebut,” jelasnya.
Teguh menambahkan, secara umum pola hujan di Jawa Barat kerap terjadi pada siang hingga malam hari. Sementara pada pagi hingga siang, cuaca cenderung berawan hingga cerah.
“Potensi hujan ringan sampai lebat biasanya muncul dari siang ke sore, kemudian berlanjut hingga malam, sesuai karakteristik wilayah Jawa Barat,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

