Hujan Es dan Angin Kencang Terjang Kuningan, 50 Rumah Rusak

Hujan es dan angin kencang menerjang Kabupaten Kuningan, merusak sedikitnya 50 rumah di Luragung Tonggoh. BMKG mengungkap pemicu cuaca ekstrem.

Hujan Es dan Angin Kencang Terjang Kuningan, 50 Rumah Rusak
Ilustrasi hujan es

INILAHKORAN.ID - hujan es disertai angin kencang menerjang Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin (2/11/2026) sore. Fenomena cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan sedikitnya 50 rumah warga di Desa Luragung Tonggoh mengalami kerusakan, serta merusak sejumlah ruko dan fasilitas umum.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, bencana cuaca ekstrem terjadi di dua kecamatan, yakni Luragung dan Cidahu, sekitar pukul 16.30 WIB.

Desa Luragung Tonggoh, Kecamatan Luragung, menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah. Mayoritas kerusakan rumah warga terjadi pada bagian atap berbahan spandek dan baja ringan yang terangkat akibat hempasan angin kencang.

Selain rumah warga, sejumlah ruko dan bangunan permukiman lainnya di wilayah terdampak juga mengalami kerusakan serupa.

Cuaca ekstrem tersebut turut menyebabkan sejumlah pohon berukuran besar tumbang di tepi jalan protokol. Salah satu pohon yang tumbang adalah pohon kenari berdiameter 30 sentimeter dan tinggi sekitar 10 meter yang melintang hingga menutup total jalan utama Luragung–Kuningan.

Pohon tumbang juga dilaporkan terjadi di depan Puskesmas Luragung.

Hingga Senin malam, tim gabungan BPBD Kuningan, aparat kecamatan, dan masyarakat setempat melakukan penanganan dengan membersihkan material atap bangunan serta mengevakuasi batang pohon yang menghalangi akses jalan.

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Es di Kuningan

Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Iid Mujtahidin, menjelaskan fenomena hujan es yang disertai angin kencang di Kabupaten Kuningan dipicu oleh terbentuknya awan konvektif matang jenis Cumulonimbus (Cb) dengan energi sangat tinggi.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 EH pada pukul 15.00 WIB, terdeteksi sel awan konvektif masif di wilayah timur Jawa Barat. Suhu Puncak Awan (SPA) tercatat sangat dingin, mencapai minus 75 hingga minus 80 derajat Celsius, dengan inti sel awan menembus minus 80 hingga minus 100 derajat Celsius.

Sementara itu, data radar cuaca CMAX merekam nilai reflektivitas mencapai 45–55 dBZ.

Iid menjelaskan, suhu puncak awan yang menembus minus 75 derajat Celsius menunjukkan awan Cumulonimbus menjulang sangat tinggi hingga melampaui lapisan beku (freezing level). Kondisi tersebut memicu pembentukan kristal es berukuran besar di dalam awan dengan dukungan arus udara naik (updraft) yang sangat kuat.

“Ketika massa es di dalam awan melebihi kapasitas daya dukung updraft, kristal es tersebut meluncur jatuh ke permukaan tanah sebelum sempat mencair sempurna. Pada saat yang sama, runtuhnya massa udara dingin (downburst/microburst) menghempaskan angin kencang ke permukaan tanah yang memorak-porandakan atap rumah warga,” katanya, Selasa (3/11/2026).

Dinamika Atmosfer Perkuat Cuaca Ekstrem

Selain pembentukan awan konvektif lokal, BMKG mencatat sejumlah dinamika atmosfer turut mendukung terjadinya cuaca ekstrem di wilayah Kuningan.

Suhu muka laut di perairan Indonesia yang relatif hangat memicu penguapan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut juga didukung gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial di Pulau Jawa.

Kelembapan udara pada lapisan 850–500 milibar (mb) tercatat berada pada rentang 40–93 persen.

Kondisi atmosfer semakin diperkuat oleh pola angin gradient dari arah tenggara serta adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Sumatra dan Selat Karimata. Dinamika tersebut membentuk belokan angin di wilayah Jawa Barat yang berpadu dengan tingkat labilitas atmosfer kategori ringan hingga kuat.

Kombinasi berbagai faktor atmosfer tersebut mendukung terbentuknya awan konvektif yang memicu hujan es dan angin kencang di Kabupaten Kuningan.


Editor : Ahmad Sayuti