BMKG : Kemarau Jawa Barat 2026 Datang Lebih Awal 

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

BMKG : Kemarau Jawa Barat 2026 Datang Lebih Awal 
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal./Istimewa

INILAHKORAN.ID - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Teguh Rahayu menyampaikan, Musim Kemarau 2026 di Jawa Barat diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Prediksi didasarkan pada analisis dinamika atmosfer, dan model iklim periode normal 1991-2020.

“Awal Musim Kemarau di Jawa Barat diperkirakan berlangsung secara bertahap, mulai Maret hingga Juni 2026 dengan sebagian besar wilayah mulai memasuki Musim Kemarau pada Mei 2026,” kata Teguh Rahayu, Kamis 19 Maret 2026.

Menurut dia, secara umum sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal dengan puncak Musim Kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Sementara durasi kemarau, berkisar 13 hingga 15 dasarian bahkan cenderung lebih panjang dari normal.

Data BMKG menunjukkan sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat, diperkirakan mulai memasuki Musim Kemarau pada Mei 2026. Sementara itu, sekitar 66 persen wilayah diprediksi mengalami awal Musim Kemarau lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis.

'Wilayah yang lebih dahulu memasuki Musim Kemarau pada Maret, meliputi sebagian kecil Bekasi dan Karawang. Pada April, Musim Kemarau diperkirakan meluas ke Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu dan sebagian Cirebon," ucapnya.

Selanjutnya pada Mei hingga Juni, Musim Kemarau akan meluas ke sebagian besar wilayah Jawa Barat termasuk Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar.

Pihaknya juga mencatat, sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal dan sekitar 81 persen wilayah akan mengalami durasi Musim Kemarau yang lebih panjang.

“Dengan kondisi tersebut, sejumlah potensi dampak perlu diantisipasi sejak dini. Di antaranya kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sistem irigasi pertanian hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan," ujar dia.

Dia mengimbau pemerintah daerah, dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi. Pihaknya menyarankan agar pengelolaan sumber daya air dioptimalkan, dan kalender tanam di sektor pertanian disesuaikan dengan kondisi iklim yang diprediksi.

"Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan air dan mitigasi bencana di Jawa Barat menjelang Musim Kemarau tahun ini,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana