Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian Khusus dalam Pencarian 8 Orang di Selat Sunda
Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian khusus tim SAR saat mencari delapan jurnalis dan kru kapal yang hilang di Selat Sunda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi perhatian khusus tim SAR gabungan dalam operasi pencarian hari kedelapan terhadap delapan orang yang terdiri dari Jurnalis dan kru kapal cepat di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (15/9/2026).
Basarnas menyatakan potensi kerentanan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pola pencarian. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi SAR.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten Rizky Dwianto mengatakan, hasil rapat evaluasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan adanya potensi peningkatan aktivitas vulkanik.
Meski belum terjadi erupsi, akumulasi energi dari aktivitas vulkanik dangkal Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu erupsi yang lebih besar dari sebelumnya.
“Hal-hal ini yang perlu diantisipasi demi keselamatan tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian,” kata Rizky di Posko Utama SAR Nasional, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa (15/9).
Rizky memastikan setiap pergerakan tim SAR dilakukan dengan pemantauan ketat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut terus diselaraskan dengan rekomendasi berkala dari PVMBG.
“Informasi perihal aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG kami jadikan pedoman. Pengamatan visual menunjukkan gunung tertutup kabut, sementara pengamatan kegempaan mencatat terjadi gempa vulkanik dangkal dengan tremor secara terus-menerus,” ujarnya.
Selain aktivitas vulkanik, kondisi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menjadi rujukan dalam operasi pencarian.
Kondisi perairan Selat Sunda dilaporkan berawan dengan tinggi gelombang antara 0,5 hingga 2,5 meter yang mengarah ke timur laut. Kecepatan angin berkisar 5-20 knot dan bergerak dari tenggara ke selatan.
3.962 Mil Laut Persegi Disisir
Pada operasi SAR hari kedelapan, tim gabungan melakukan penyisiran di lima sektor pencarian laut dengan total luas sekitar 3.962 mil laut persegi.
Pencarian melibatkan sejumlah armada dari berbagai unsur, di antaranya KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KN SAR Antasena, KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KRI Lepu, KRI Kerambit, KAL Anyer, KAL Pahowang, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RBB Pulau Peucang, serta sejumlah kapal KP Polairud.
Pada Sektor A seluas 1.026 mil laut persegi, pencarian dilakukan menggunakan KRI Gilimanuk dan KRI Leuser.
Sektor B dengan luas 780 mil laut persegi melibatkan KN SAR Antasena dan KP Sanjaya.
Selanjutnya, Sektor C seluas 825 mil laut persegi disisir oleh KN SAR Tetuka, KRI Lepu, dan KRI Kerambit.
Sementara Sektor D memiliki luas 872 mil laut persegi. Pencarian di wilayah tersebut melibatkan KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KAL Pahowang.
Adapun Sektor F dengan luas 459 mil laut persegi disisir oleh RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, sejumlah kapal KP Polairud, serta unsur pendukung lainnya.
Delapan Orang Masih Dicari
Sebelumnya, Pusat Pengendalian Operasi Basarnas melaporkan kapal cepat yang membawa rombongan Jurnalis bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB.
Rombongan tersebut berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sebanyak delapan orang hingga kini masih dalam pencarian. Mereka terdiri atas lima Jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan Jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya merupakan kru dan pendamping kapal, yakni Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai ABK, serta Heriyanto sebagai pemandu.
Komunikasi terakhir mencatat rombongan sempat mengirimkan lokasi terkini kepada rekan Jurnalis di Lampung pada Senin (7/9) pukul 14.42 WIB.
Namun, komunikasi kemudian terputus pada pukul 15.04 WIB di sekitar koordinat 6°14'40.52"S dan 105°40'49.48"T.
Tim SAR gabungan hingga kini masih melanjutkan operasi pencarian dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, gelombang laut, serta perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.***
Editor : JakaPermana

