Bogor Bertebaran Pemilih Milenial

Democracy and Electoral Empowerment Partnership DEEP) bekerja sama dengan Lembaga Studi Visi Nusantara (LS-ViNus) menggelar kursus singkat pemilu dan demokrasi (KurSi) Angkatan ke-3.

Bogor Bertebaran Pemilih Milenial
INILAH, Bogor- Democracy and Electoral Empowerment Partnership DEEP) bekerja sama dengan Lembaga Studi Visi Nusantara (LS-ViNus) menggelar kursus singkat pemilu dan demokrasi (KurSi) Angkatan ke-3.
 
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ilham Permana yang membuka acara KurSi ini
menekankan bagaimana signifikannya pemilih generasi milenial di Kabupaten Bogor karena jumlahnya yang mencapai 30 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah ditetapkan oleh KPU Kabupaten Bogor.
 
"Peran pemilih milineal ini dengan jumlahnya yang mencapai 30 persen dari jumlah DPT sekitar 3,4 juta jiwa tentunya sangat berpengaruh dalam menentukan pemenang pemilihan presiden maupun legislatif," ucap Ilham Permana kepada wartawan, Minggu (17/2).
 
Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) ini menyampaikan bahwa tidak akan mungkin pemilih bisa menentukan pilihannya dalam pemilu 2019 dengan cerdas dan bertanggungjawab, ketika tidak mengenal terlebih dahulu rekam jejak para calon legislatif (caleg) dan calon presiden dan wakil presiden. 
 
"Ini pekerjaan rumah caleg dan calon presiden dan wakil presiden bagaimana mereka bisa menyakinkan pemilihnya terutana pemilih milenial yang memiliki daya kritis dalam berpikir," terangnya.
 
Ilham juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap DEEP dan LS- ViNus, yang mampu membangun tradisi pendidikan politik dan demokrasi untuk kalangan milenial yang tidak banyak lembaga lain melakukan itu. 
 
"Mudah-mudahan lembaga-lembaga legislatif dan pemerintah serta lembaga penyelenggara pemilu bisa menaruh perhatian terhadap pendidikan pemilu dan demokrasi ini seperti yang dilakukan oleh DEEP dan LS-ViNus ini," papar Ilham.
 
Sementara, Direktur DEEP  Ramdhan Nugraha menuturkan bahwa tantangan krusial yang dihadapi oleh pemilih saat ini terlebih generasi milenial dalam pemilu 2019 adalah melawan hoax dan ujaran kebencian yang setiap saat masuk ke dalam pikiran para pemilih.
 
"Hoaks dan ujaran  kebencian tersebut bahkan terkadang  dianggap sebuah kebenaran, lalu ada tantangan lainnya berupa politik transaksional, dimana dengan Presiden Treshold yang sangat tinggi 4 persen bisa memaksa semua partai politik dan calegnya berpotensi menghalalkan segala cara untuk bisa masuk parlemen, termasuk di dalamnya politil uang," tutur Ramdhan.
 
Dia menambahkan politik Identitas bisa membuat pemilih kalangan milenial akan sangat rentan terbawa arus politik identitas, dimana menggunakan kemasan agama, suku dan ras demi mencapai kekuasaan. 
 
"Tantangan berikutnya adalah KTP electronik karena sebagian besar pemilih dari generasi milenial saat ini belum mempunyai KTP elektronik, terlebih pelajar yang ketika hari pungut hitung baru menginjak usia 17 tahun. Oleh karena itu, KuRsi ini hadir dalam rangka menyiapkan generasi yang mampu melawan potensi2 di atas," tambahnya. 
 


Editor : inilahkoran