Bola Salju PUB di Perguruan Tinggi

Bola salju PUB ini bukan saja mencetak sarjana dari sisi kuantitas, tapi lebih diutamakan kualitas. Sarjana sebagai gerbong perubahan yang lebih baik, sarjana yang akan menjadikan Indonesia sejajar de

Bola Salju PUB di Perguruan Tinggi
Ilustrasi

Bola salju PUB ini bukan saja mencetak sarjana dari sisi kuantitas, tapi lebih diutamakan kualitas. Sarjana sebagai gerbong perubahan yang lebih baik, sarjana yang akan menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Akan dikeluarkannya KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk tingkat perguruan tinggi oleh salah satu pasangan calon yang akan berlaga di Pilpres 2019 sempat menarik perhatian penulis.

Dijanjikan bahwa apabila mereka terpilih maka negara akan memberikan fasilitas kepada mahasiswa dari kalangan yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang sarjana, sehingga nantinya Indonesia akan mempunyai jutaan sarjana.

Tentu saja, harapannya sarjana yang dihasilkan bukan saja dari sisi kuantitas tapi lebih diutamakan dari sisi kualitas. Sarjana sebagai gerbong perubahan yang lebih baik, sarjana yang akan menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Tidak ada yang salah dalam hal ini malah sangat bagus, tetapi sepertinya kalau ini bisa terlaksana pada tahun 2019 , maka negara ternyata terlambat sekitar 17 tahun dari Universitas Nasional Pasim.

Kegiatan ini sudah dilaksanakan oleh Universitas Nasional (Unas) Pasim sejak tahun 2002 dengan nama programnya adalah beasiswa PUB (Pemberdayaan Umat Berkelanjutan).

Program PUB ini menyediakan fasilitas beasiswa penuh bagi penerimanya, selain gratis biaya kuliah dan semua kegiatan yang berhubungan dengan kuliah sampai wisuda.

Mereka juga mendapatkan fasilitas seperti asrama, sarapan dan makan, penyediaan alat-alat kebersihan tubuh (toiletris) dan kebersihan pakaian, pelatihan program IT, pelatihan keagamaan, pelatihan leadership, rekreasi, jaminan kesehatan, uang saku, bahkan sampai penempatan kerja.

Program ini menyasar calon mahasiswa dari golongan yang tidak mampu secara finansial tapi mempunyai kemampuan dari sisi akademik dan motivasi yang tinggi untuk sukses.

Target dari program untuk sementara ini adalah calon mahasiswa yang berada di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja, Pekanbaru Riau, Sumatera Utara. Ke depannya, akan dicoba menjangkau seluruh Indonesia (terutama daerah-daerah tertinggal, terjauh, terbelakang).

Tercetusnya ide program PUB ini adalah munculnya keprihatinan dari pembina yayasan yang menaungi Unas Pasim melihat banyaknya talenta-talenta yang bagus tapi tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Malah, ada orang tua yang memaksakan supaya anaknya kuliah dengan harapan bisa lebih sukses nantinya membayar uang kuliah dengan termehek-mehek.

Singkat cerita dengan gerak cepat beliau mengumpulkan zakat, infak, sedekah, dan sumbangan lainnya dari keluarga dan kolega beliau maka dibuatlah program ini. Supaya lebih tertib administrasi, maka dibuat juga yayasan sebagai payung hukumnya yaitu Yayasan Marlina Buchari.

Sampai sekarang, program PUB ini setiap tahunnya menerima 60 mahasiswa baru, jumlah tersebut disesuaikan dengan kemampuan keuangan dari yayasan untuk membiayai, walaupun untuk peserta yang berminat pada program ini biasanya di angka 1.500-2.000 peminat.

Kenapa nama programnya Pemberdayaan Umat Berkelanjutan? Program ini memang dirancang seperti bola salju, yaitu setiap alumni dari program ini yang sudah bekerja, maka diminta infaknya sekitar 20% dari total penghasilan mereka dengan rumus 2 N + 1.

Infak yang terkumpul dikelola oleh adik-adik mereka yang masih kuliah, untuk kepentingan biaya mereka selama pendidikan di Unas Pasim. Apabila ada kekurangan untuk keberlanjutan studi ataupun biaya hidup, maka pembina Yayasan Unas Pasim akan turun tangan menutupi kekurangan tersebut.

17 tahun menjalankan program ini, tingkat keberhasilannya sangat tinggi yaitu di atas 90%. Alumninya sudah banyak berkiprah di perusahaan-perusahaan besar, baik BUMN, swasta nasional bahkan sampai keluar negeri.

Hebatnya lagi, para alumni ini sangat peduli dan loyal dengan almamaternya, mereka akan selalu mengajak dan memberikan kesempatan kepada adik kelasnya untuk bekerja di tempat mereka.

Bahkan, beberapa senior yang mempunyai kemampuan IT yang lebih baik, akan memberikan pelatihan kepada adik-adik kelasnya. Walaupun mereka berdomisili di Jakarta, tapi mereka menyempatkan untuk setiap Sabtu atau Minggu berbagi ilmu kepada juniornya.

Berdasarkan paparan di atas, apabila program ini diadopsi oleh negara, saya yakin akan banyak lagi putra-putri terbaik bangsa bisa menikmati pendidikan tinggi yang berkualitas, pemerataan pendidikan akan terasa langsung kepada yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok. (Desfitriady)


Editor : inilahkoran