Bolehkah Reward jadi Strategi Agar Anak Mau Puasa Ramadan, Begini Kata Psikolog
Psikolog menjelaskan pentingnya reward dari orang tua untuk anak sesuai usianya yang tengah belajar puasa Ramadan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Banyak dari orang tua saat ini pasti akan menyiapkan stategi reward untuk anak-anak mereka yang tengah belajar puasa Ramadan.
Hal ini dilakukan para orang tua agar sang anak mau belajar puasa Ramadan meski mereka mengharapkan reward apa yang telah disiapkan orang tuanya.
Namun apakah penggunaan reward ini sudah benar agar anak mau belajar puasa selama bulan Ramadan?
Dikutip dari laman Antara, Psikolog klinis anak dan remaja, Mariska Johana H, M.Psi., dari Universitas Padjadjaran menekankan pentingnya melihat puasa sebagai proses perkembangan.
Orang tua harus melihat perkembangan sang anak saat mengajarkan proses puasa bukan sekadar pengajaran aturan.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan," jelas Mariska.
Dia melanjutkan, "Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak."
Dan beeikut ini cara orang tua memberi reward pada anak-anak yang tengah belajar puasa Ramadan sesuai usia dan perkembangan sang anak.
Reward Sebagai Strategi
Menggunakan sistem hadiah atau reward untuk anak masih sering dipilih orang tua agar sang anak termotifasi mau belajar berpuasa.
Menurut Mariska, reward jugaharus dipahami sebagai strategi perkembangan untuk anak-anak saat mereka belajar puasa Ramadan.
Pada usia tertentu, reward masih dibutuhkan sebagai penguat eksternal, namun seiring bertambahnya usia sang anak, fokus penguatan perlu bergeser ke motivasi intrinsik, pemahaman nilai spiritual, dan kesadaran diri.
Untuk usia anak tiga hingga enam tahun reward konkret masih relevan karena anak berpikir konkret dan belum mampu memaknai tujuan puasa Ramadan secara abstrak.
Reward bisa diberikan berupa stiker, chart, atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga yang disukai sang anak.
Yang penting, orang tua memberikan reward atas usaha dan perilaku positif yang menyertai puasa Ramadan sang anak, seperti mau mencoba menahan lapar, mau sahur, atau mampu mengalihkan perhatian saat tidak nyaman.
Reward ini selalu disertai penjelasan sederhana tentang makna puasa Ramadan, misalnya usaha anak disukai Allah dan baik untuk tubuhnya yang sedang belajar teratur.
Pada usia anak tujuh hingga sembilan tahun, reward masih dapat digunakan juga oleh orang tua, tetapi mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional.
Reward ini bisa diberikan orang tua atas perilaku anak yang lebih luas, seperti mampu bersikap sabar, mau beribadah, memilih makanan sehat saat berbuka, atau menyisihkan uang untuk sedekah.
Memasuki usia sepuluh hingga dua belas tahun, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan.
Penguatan reward sebaiknya lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri.
Anak diajak menyadari bahwa puasa melatih pengendalian diri, memperkuat hubungan spiritual, dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.
"Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah," jelas Mariska.
Dalam semua tahap ini, orang tua juga disarankan menerapkan proses fading, yaitu pengurangan reward secara bertahap.
Hal ini bertujuan agar anak beralih dari motivasi berbasis hadiah ke motivasi intrinsik, sehingga anak mampu merasakan kepuasan batin, makna spiritual, dan manfaat kesehatan dari puasa itu sendiri.
“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, tetapi menjadi jembatan awal yang membantu anak belajar, tumbuh, dan memaknai puasa sesuai tahap perkembangannya,” tutur Mariska.***
Editor : Irma Nurfajri

