Cerita TKW Asal Soreang di Qatar Soal Konflik Timur Tengah

Iit Suryati (59), TKW asal Kampung Legok Kole, Karamatmulya, Soreang, Kabupaten Bandung menceritakan dampak konflik Timur Tengah di Qatar. (Istimewa)

Cerita TKW Asal Soreang di Qatar Soal Konflik Timur Tengah
Iit Suryati (59), TKW asal Kampung Legok Kole, Karamatmulya, Soreang, Kabupaten Bandung menceritakan dampak konflik Timur Tengah di Qatar. (Istimewa)

INILAHKORAN.ID- Kondisi di Qatar, Timur Tengah, tempat bekerja Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Bandung, masih relatif aman meski pemerintah setempat memberlakukan status darurat menyusul memanasnya situasi konflik di kawasan tersebut.

Iit Suryati (59), TKW asal Kampung Legok Kole RT 01 RW 12, Desa Karamatmulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, mengaku hingga saat ini aktivitasnya masih berjalan normal di rumah majikannya di kawasan Al Wedyan Street, Qatar.

Namun demikian, ia tidak menampik adanya kekhawatiran di tengah situasi keamanan yang terkadang menegang.

“Ketakutan ada, tapi masih terbilang aman. Karena memang pangkalan militer Amerika itu sangat jauh dari tempat kami bekerja. Khawatir atau takutnya itu ada pecahan rudal yang jatuh di tempat kita,” kata Iit kepada INILAHKORAN.ID melalui sambungan telepon, Jumat 6 Maret 2026.

Iit menuturkan, kondisi mencekam sesekali terasa ketika sirine peringatan berbunyi. Sirine tersebut menjadi tanda adanya rudal maupun drone yang melintas di wilayah udara Qatar, yang disebut berasal dari Iran dan mengarah ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Meski demikian, lokasi rumah majikannya dinilai cukup jauh dari pangkalan militer yang menjadi sasaran serangan.

Iit mengungkapkan, dirinya telah bekerja di Qatar selama sekitar 16 bulan. Di rumah majikannya yang merupakan pensiunan militer itu, ia bekerja bersama dua orang warga negara Indonesia lainnya yang berasal dari Cianjur dan Karawang.

Menurutnya, sang majikan kerap menenangkan mereka agar tidak panik menghadapi situasi yang berkembang.

Selain karena lokasi pangkalan militer cukup jauh, majikannya yang pernah bertugas di militer juga dinilai memiliki informasi dan pemahaman yang baik mengenai situasi keamanan serta langkah-langkah yang harus dilakukan jika kondisi memburuk.

“Majikan saya bilang tidak perlu takut berlebihan. Karena dia juga tahu kondisi keamanan di sini dan apa yang harus dilakukan kalau situasinya darurat,” ujarnya.

Meski begitu, sang majikan mulai meningkatkan kewaspadaan dengan memperbanyak persediaan bahan makanan serta air bersih di rumah.

Hal itu dilakukan setelah adanya informasi bahwa sebagian penerbangan yang membawa pasokan bahan makanan ke Qatar mulai berkurang akibat situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

“Sekarang majikan memperbanyak persediaan bahan makanan dan air bersih. Kata dia sekarang sudah tidak ada penerbangan pesawat yang membawa beberapa bahan makanan seperti bawang dan lainnya ke Qatar, jadi lebih baik menyiapkan cadangan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, hingga saat ini pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) belum melakukan pendataan khusus terhadap warga negara Indonesia yang berada di Qatar. Selain itu, belum ada imbauan ataupun perintah untuk meninggalkan negara tersebut.

Menurutnya, meski sempat terjadi serangan ke pangkalan militer Amerika, kondisi keamanan secara umum di Qatar masih relatif terkendali.

Sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas, keluarga Iit di Indonesia terus memantau kondisinya. Suami yang berada di Soreang serta kerabatnya di Cianjur kerap menghubunginya untuk memastikan keadaan dirinya.

“Sejak meletusnya perang Iran dengan Amerika dan Israel ini, keluarga saya di Indonesia sangat khawatir. Suami di Soreang serta kakak dan keponakan di Cianjur selalu menelepon menanyakan kabar. Alhamdulillah saya di sini baik-baik saja,” kata Iit yang bekerja sebagai juru masak di rumah majikannya tersebut.


Editor : Ahmad Sayuti