AS dan Iran Kembali Bahas Upaya Akhiri Konflik Lewat Mediator

AS dan Iran kembali melakukan pembahasan melalui mediator. Pembicaraan terbaru fokus pada revisi proposal tujuh hari yang diajukan Iran.

AS dan Iran Kembali Bahas Upaya Akhiri Konflik Lewat Mediator
istimewa

INILAHKORAN.ID – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur komunikasi melalui negara-negara mediator dalam upaya mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Pada Senin (28/9/2026), perwakilan AS dan Iran secara terpisah melakukan pembahasan dengan para mediator. Pembicaraan tersebut menjadi bagian dari upaya baru untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur Diplomasi.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, pembahasan lanjutan diperkirakan akan berfokus pada revisi proposal tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

Proposal tersebut antara lain mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pembahasan mengenai sanksi dan aset Iran yang dibekukan. Detail mengenai format maupun hasil pembicaraan terbaru belum diungkapkan secara terbuka.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan Iran masih menunggu tanggapan resmi Amerika Serikat terhadap proposal tersebut. Ia juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz berkaitan dengan terpenuhinya sejumlah persyaratan yang diajukan Iran.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump siap mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran dan pencairan sebagian dana Iran yang diblokir apabila terdapat kemajuan konkret dalam pembahasan kesepakatan nuklir.

Namun, Trump kemudian membantah laporan mengenai tawaran tersebut. Reuters juga melaporkan pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan kemungkinan pengecualian sanksi sementara untuk penerbangan yang membawa jamaah Syiah antara Iran dan Irak.

Sebelumnya, mediator diperkirakan akan melakukan pembicaraan terpisah dengan pihak AS dan Iran pada 28 atau 29 September. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi masih berada di New York setelah menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Proposal tujuh hari Iran menjadi salah satu fokus dalam upaya terbaru tersebut. Dalam proposal itu, Teheran mengaitkan langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan sejumlah konsesi dari Washington, termasuk penghentian blokade, keringanan sanksi minyak dan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pekan lalu menyatakan bahwa Iran tidak akan membuat senjata nuklir.

Perkembangan diplomasi terbaru ini terjadi setelah Trump sebelumnya menyatakan bahwa komunikasi dengan mediator terkait Iran masih berlangsung. Pemerintah AS dan Iran kini kembali menggunakan jalur tidak langsung melalui mediator untuk membahas kemungkinan penyelesaian konflik.***


Editor : JakaPermana