Daop 2 Genjot Kesiapan Jalur

Masa angkutan Lebaran 2019 segera dimulai. PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus melakukan pembenahan dan normalisasi jalur yang akan dilalui kereta demi keselamatan perjalanan.

Daop 2 Genjot Kesiapan Jalur
Foto: Doni Ramdhani

Daop 2 Genjot Kesiapan Jalur

INILAH, Bandung - Masa angkutan Lebaran 2019 segera dimulai. PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus melakukan pembenahan dan normalisasi jalur yang akan dilalui kereta demi keselamatan perjalanan.

EVP Daop 2 Bandung Saridal mengatakan, hingga H-10 Lebaran tahun ini semua sarana dan prasarana perkeretaapian diharapkan rampung diperbaiki. Seperti normalisasi wesel yang merupakan bagian terpenting dalam perjalanan KA.

“Untuk perbaikan dan normalisasi wesel, di Daop 2 Bandung ini progresnya sudah 85-90% siap dipakai. Total, ada sekitar 394 wesel yang fungsinya mengarahkan jalur masuk dan keluar,” kata Saridal saat normalisasi wesel 28 di Stasiun Bandung, Selasa (14/5/2019).

Menurutnya, kesiapan lokomotif dan seluruh kereta yang akan dipergunakan pada masa Angkutan Lebaran 2019 ini semuanya relatif siap. Terkait penjualan tiket perjalanan arus mudik, Saridal mengaku untuk KA reguler Lebaran seluruhnya ludes terjual.

“Sekarang, tiket yang tersisa hanya untuk KA Tambahan. Di Bandung ini ada empat KA Tambahan. Kondisi penjualan tiket KA Tambahan, sejauh ini 57% sudah dipesan,” ucapnya.

Sebelumnya, menghadapi puncak lonjakan perjalanan KA tersebut Daop 2 Bandung melakukan berbagai upaya untuk keselamatan perjalanan. Saridal mengatakan, saat ini pihaknya terus menggenjot normalisasi jalur KA. Menurutnya, seluruh prasarana perjalanan KA seperti emplasemen, perlintasan,jembatan,lengkungan, hingga wesel kudu dalam kondisi andal dan mumpuni.

“Untuk normalisasi prasarana jalur KA ini, saya targetkan hingga pertengahan bulan depan (Mei) harus rampung semua. Jadi, sepuluh hari sebelum masa angkutan Lebaran itu harus beres,” ujarnya.

Menurutnya, di wilayah kerja Daop 2 itu terdapat 44 titik rawan yang diwaspadai. Untuk itu, pihaknya menurunkan sejumlah petugas penjaga di sejumlah titik rawan tersebut. Berdasarkan pantauannya, kini terdapat 15 titik yang harus dinormalisasi. 
Dia menyebutkan, banyaknya titik yang harus dinormalisasi itu seiring dengan musim penghujan yang masih berlangsung hingga sekarang. Curah air hujan yang intensitasnya tinggi itu mengakibatkan posisi batu balast berubah. Padahal, balast merupakan bagian dari badan jalur KA tempat penempatan bantalan rel yang berfungsi menjaga kestabilan KA.

“Karena hujannya masih tinggi, di beberapa titik jalur KA itu terdapat cipratan atau kecrotan air di sela-sela batu balast. Itu yang harus segera diperbaiki dan diganti,” ujarnya.

Saridal menjelaskan, kondisi cipratan air itu salah satunya disebabkan batu balast atau kerikil yang berubah atau berkurang. Kondisi itu dikenal dengan istilah ‘mati’ karena banyaknya lumpur. Kalau dibiarkan, dia mengaku hal itu berisiko pada aspek keselamatan kereta.

“Kalau di titik-titik kecrotan air dibiarkan, ayunan rel tak mampu menahan beban kereta yang melintas dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, KA bisa anjlok,” sebutnya.

Saking pentingnya fungsi batu balast itu, Saridal menegaskan normalisasi jalur KA itu harus selesai sebelum masa Angkutan Lebaran tahun ini berlangsung. Dia menyebutkan, pemeriksaan jalur KA ini rutin dilakukan tiga kali dalam sepekan. Proses perawatan tersebut penting lantaran di Daop 2 ini jumlah jembatan relatif banyak. Setiap regu yang bertugas itu terdiri dari 16 orang.

Saat ini, normalisasi jalur di dekat jembatan merupakan prioritas utama. Pasalnya, cipratan air di dekat jembatan itu merupakan titik mati yang akan berdampak bahaya bagi perjalanan KA. Tak hanya batu balast, bantalan rel yang pecah pun harus segera diganti.

“Selain menyiapkan material, kami pun menyiapkan tenaga kerja yang jumlahnya tidak sedikit. Jalur KA dari Cikampek hingga Padalarang memang masih banyak yang harus normalisasi. Makanya, kita kebut dan akan terus memperbaiki,” tuturnya.

Saridal mengaku, hal lain yang menjadi fokus perhatiannya yakni petugas di perlintasan sebidang. Apalagi, di Daop 2 ini relatif masih banyak perlintasan yang tidak resmi yang harus tetap dijaga petugas. Kondisi wesel atau konstruksi rel kereta yang bercabang juga tak luput dari perhatiannya.


Editor : Doni Ramdhani