Dari Modal Rp374 Ribu, Ronny Lukito Ubah Lahan Gundul Jadi Hutan di EIGER Nature

Ronny Lukito memulai EIGER dengan modal Rp374 ribu pada 1979. Kini, ia mengembangkan EIGER Nature untuk memulihkan lahan kritis menjadi kawasan hijau.

Dari Modal Rp374 Ribu, Ronny Lukito Ubah Lahan Gundul Jadi Hutan di EIGER Nature
Ronny Lukito, Chairman EIGER Nature berbagi perjalanan hidup dan visi besarnya.

INILAHKORAN.ID - Dari rumah sederhana di kawasan padat dekat Gelora Pulogadung, Ronny Lukito memulai perjalanan bisnisnya dengan modal Rp374.000 pada 1979. Lebih dari empat dekade kemudian, perjalanan itu berkembang menjadi bisnis perlengkapan alam sekaligus gerakan untuk mengembalikan lahan kritis menjadi hutan.

Chairman EIGER Nature itu membagikan kisah perjalanan hidup dan visinya saat menerima kunjungan resmi Menteri Lingkungan Hidup, pejabat daerah, serta masyarakat di Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Ronny mengenang bagaimana usaha yang dirintis dari rumah tersebut tumbuh hingga kini memiliki hampir 400 gerai EIGER di berbagai daerah di Indonesia.

"Dulu saya merintis dari rumah di Gang H. Arsyad, dekat Gelora Pulogadung. Kalau tidak pindah, mungkin saya tetap di sana. Dengan modal Rp374.000 di tahun 1979, berkat dukungan konsumen dan tim, EIGER kini memiliki hampir 400 gerai di seluruh Indonesia," kata Ronny.

Menurutnya, perkembangan bisnis tersebut juga telah menciptakan ekosistem yang melibatkan sekitar 17.000 karyawan. Jika dihitung bersama keluarga para pekerja, jumlah masyarakat yang ikut bergerak dalam ekosistem tersebut mencapai sekitar 50.000 jiwa.

Dari Lahan Gundul Menjadi Hutan

Bagi Ronny, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari pertumbuhan usaha. Sebagian hasilnya juga diarahkan untuk memulihkan lingkungan melalui pengelolaan kawasan alam secara berkelanjutan.

Di Dusun Bambu, lahan seluas 15 hektare yang sebelumnya gundul dan rusak akibat pertanian intensif sayur serta kentang kini telah berubah menjadi kawasan hijau.

Selama sekitar 12 tahun pengelolaan, konsep pariwisata alam berkelanjutan diterapkan dengan menggabungkan aktivitas wisata dan upaya menjaga fungsi lingkungan.

Dusun Bambu juga pernah meraih Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2019 di tingkat nasional dan ASEAN Sustainable Tourism Award (ASTA) 2020.

"Saya belajar dari pengalaman ini. Lahan yang dulunya kritis, gundul, tandus, kini kembali hijau. Bukan hanya untuk wisata, tapi untuk mengembalikan fungsi tanah, air dan udara. Ini bukan milik saya, ini titipan untuk dijaga," jelasnya.

Upaya serupa kini dikembangkan melalui EIGER Nature di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Di kawasan seluas 253 hektare yang merupakan lahan milik negara dan dikelola melalui kerja sama dengan PTPN serta Kementerian Kehutanan, EIGER telah menanam sekitar 120.000 pohon tegakan dan 8 juta tanaman perdu.

"Bukan lahan milik kami sepenuhnya, tapi milik negara, PTPN, dan Kementerian Kehutanan. Kami mengelola dengan izin dan rasa tanggung jawab. Apa yang tandus kami hijaukan," ujarnya.

EIGER Nature dijadwalkan dibuka untuk masyarakat pada 27 Oktober 2026. Kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan alam sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

"Tanggal 27 Oktober 2026, insyaallah, Eiger Nature akan dibuka untuk masyarakat. Tujuannya sederhana: mengajak orang kembali mengenal alam, mencintai lingkungan, dan ikut menjaganya," sebutnya.

Ronny mengakui masih terdapat kekurangan dalam pengembangan kawasan tersebut. Namun, ia berharap EIGER Nature dapat menunjukkan bahwa kegiatan bisnis dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Dari modal Rp374.000 hingga berkembang menjadi ratusan gerai, Ronny ingin perjalanan tersebut tidak berhenti pada pencapaian bisnis. Ia berharap semakin banyak pihak ikut memulihkan lahan rusak, menanam pohon, dan mengajak generasi muda mencintai alam.

"Saya ingin berbuat sesuatu yang bisa dibanggakan dan bermanfaat bagi bangsa ini. Alam tidak butuh kita, kitalah yang butuh alam. Menjaganya adalah menjaga masa depan kita sendiri," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti