Dedi Mulyadi Kerahkan Armada Mobile Batching Plant, Perbaikan Jalan Desa Dikebut

Pemprov Jabar mengandalkan armada Mobile Batching Plant untuk mempercepat pembangunan dan perbaikan jalan hingga wilayah pedesaan. 

Dedi Mulyadi Kerahkan Armada Mobile Batching Plant, Perbaikan Jalan Desa Dikebut
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, keberadaan armada tersebut menjadi solusi bagi pembangunan jalan di daerah terpencil yang selama ini terkendala distribusi material. (dok)

INILAHKORAN.ID - Pemprov Jabar mengandalkan armada Mobile Batching Plant untuk mempercepat pembangunan dan perbaikan jalan hingga wilayah pedesaan. 

Teknologi produksi beton bergerak ini memungkinkan pengecoran dilakukan langsung di lokasi proyek, tanpa harus mengandalkan pasokan dari pabrik beton siap pakai yang jauh dari titik pekerjaan.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, keberadaan armada tersebut menjadi solusi bagi pembangunan jalan di daerah terpencil yang selama ini terkendala distribusi material.

"Ini kan mobil yang diperuntukkan untuk membuat jalan-jalan cor. Sehingga ngecornya enggak usah lagi di pabrik. Tapi ngecornya di lokasi desa yang jauh dari batching plant pakai mobil," ujar Dedi, dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (4/10/2026).

Menurut Dedi, percepatan pembangunan infrastruktur dasar menjadi salah satu fokus utama Pemprov Jabar. Kehadiran Mobile Batching Plant diharapkan mampu mempercepat penanganan kerusakan jalan, tanpa bergantung pada sistem distribusi beton konvensional.

"Pembangunan Jawa Barat harus fokus pada penyelesaian infrastruktur dasar. Kita ingin penanganan kerusakan jalan, terutama jalan provinsi dan kabupaten/kota, bisa dieksekusi secara instan dan mandiri tanpa harus menunggu rantai logistik beton konvensional yang lama," ucapnya.

Dia menilai, karakter geografis Jawa Barat yang luas membutuhkan dukungan peralatan yang fleksibel, agar pembangunan tidak terhambat oleh jarak maupun keterbatasan akses.

"Alat ini menjadi jawaban untuk wilayah-wilayah yang lokasinya terpencil atau memiliki akses jalan sempit yang tidak bisa dijangkau oleh stasiun pengolah beton (ready-mix) besar. Pelayanan publik tidak boleh terhambat oleh jarak," tegasnya.

Dengan sistem produksi beton langsung di lapangan, kebutuhan material dapat dipenuhi secara lebih cepat dan efisien. Skema ini juga memungkinkan pekerjaan jalan dilakukan secara mandiri di berbagai daerah yang sebelumnya sulit dijangkau kendaraan pengangkut beton.

Dedi menegaskan, seluruh program pembangunan jalan tersebut dibiayai dari penerimaan daerah yang berasal dari masyarakat, termasuk pajak kendaraan bermotor.

"Mobil-mobilnya bukan dari saya, uangnya uang dari pajak rakyat Jabar yang dibayarkan melalui pajak kendaraan bermotor," tegasnya.

Maka dari itu, pembangunan jalan hingga tingkat kampung dan desa merupakan bentuk pengembalian manfaat pajak kepada masyarakat dalam bentuk infrastruktur publik.

"Jadi hari ini kampung-kampung mulai diurus, dicor jalannya dan itu jalan dibangun dari pajak. Bukan duitnya Dedi Mulyadi, tapi duit rakyat. Dikembalikan menjadi fasilitas rakyat," katanya.

Saat ini Pemprov Jabar mulai mendistribusikan armada Mobile Batching Plant, untuk mendukung Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Jalan dan Jembatan dalam mempercepat pembangunan maupun pemeliharaan jalan di berbagai wilayah.

Dedi memastikan, pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau kampung dan desa yang menjadi pusat aktivitas masyarakat sehari-hari.

Dia juga mengingatkan warga, agar tidak melintasi jalan yang baru selesai dicor sebelum beton mencapai tingkat kekuatan yang memadai.

"Lamun geus alus, ingat ya, waktu jalan masih basah jangan diinjek dulu pakai motor, pakai mobil. Tunggu sampai 14 hari, baru boleh lewat," katanya.

Menurut Dedi, pembangunan jalan menjadi bagian dari upaya penataan wilayah sekaligus memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

"Lembur diurus, kota ditata," tutupnya.


Editor : Doni Ramdhani