Dedi Mulyadi Libatkan Guru Besar UI, Kawal Amdal Data Center BDx Jatiluhur

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi melibatkan guru besar FMIPA UI Prof Zulys untuk mengawal proses Amdal proyek Data Center BDx Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Dedi Mulyadi Libatkan Guru Besar UI, Kawal Amdal Data Center BDx Jatiluhur
Menurut Dedi, meski kewenangan penerbitan izin Amdal berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta, Pemprov Jabar memiliki kepentingan untuk memastikan setiap investasi yang masuk tidak mengorbankan kelestarian lingkungan maupun kepentingan masyarakat. (ilustrasi/dok)

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi melibatkan guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) Prof Zulys untuk mengawal proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek Data Center BDx Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memastikan proses kajian lingkungan berlangsung transparan, terbuka, dan berbasis kajian ilmiah. Dedi menegaskan, Amadl tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai syarat administratif dalam proses investasi.

Menurut Dedi, meski kewenangan penerbitan izin Amdal berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta, Pemprov Jabar memiliki kepentingan untuk memastikan setiap investasi yang masuk tidak mengorbankan kelestarian lingkungan maupun kepentingan masyarakat.

Dalam pembahasan tersebut, salah satu isu yang menjadi sorotan adalah kebutuhan air untuk mendukung sistem pendingin pusat data. Dedi memaparkan, kuota air dari Waduk Jatiluhur yang dialokasikan untuk PDAM Purwakarta mencapai 3.000 liter per detik, sementara pemanfaatannya saat ini baru sekitar 11 persen.

Sementara kebutuhan operasional Data Center BDx Jatiluhur diperkirakan berada di kisaran 380 liter per detik. Dengan angka tersebut, penggunaan kuota air diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 25 persen, sehingga masih tersedia kapasitas cadangan yang cukup besar.

Prof Zulys menilai, pasokan air dari Waduk Jatiluhur masih memadai untuk mendukung operasional pusat data tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat. Dia juga berpandangan, penggunaan air permukaan lebih aman dibandingkan eksploitasi air tanah yang berpotensi memicu penurunan muka air dan mengganggu sumur warga.

“Ini kan airnya sudah ada, sudah melimpah. Apalagi kalau musim hujan, airnya malah terbuang. Makanya bangun Data Center BDx Jatiluhur, bukan di tengah pemukiman warga,” ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (4/10/2026).

Guna menjaga objektivitas kajian, Dedi meminta Prof Zulys mendampingi DLH Kabupaten Purwakarta dalam proses penelaahan dokumen Amdal. Kehadiran akademisi independen dinilai penting, untuk menguji berbagai kajian yang diajukan, termasuk apabila diperlukan melakukan telaah kritis terhadap hasil kajian konsultan lingkungan.

Prof Zulys menyatakan kesiapannya menjalankan tugas tersebut. Menurutnya, keterlibatan kalangan akademisi diperlukan agar setiap keputusan terkait proyek strategis tetap berlandaskan data ilmiah dan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

Di sela pembahasan proyek Data Center BDx Jatiluhur, Dedi juga menyoroti kondisi kawasan hulu Sungai Citarum di Cisanti yang dinilainya semakin rentan akibat alih fungsi lahan. Dia mengungkapkan, sebagian area tangkapan air mengalami degradasi karena dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sayuran, sehingga mengancam keberlangsungan sumber mata air.

Sebagai langkah pemulihan, Dedi menyiapkan program rehabilitasi terhadap sekitar 2.000 hektare lahan negara di kawasan tersebut. Program itu diarahkan untuk mengembalikan fungsi kawasan sebagai daerah resapan dan penyangga ekosistem hulu Citarum.

Menariknya, skema rehabilitasi tidak hanya berfokus pada penanaman pohon. Dedi berencana melibatkan masyarakat setempat, khususnya para buruh tani, sebagai penjaga kawasan hutan yang bertugas merawat tanaman dan menjaga keberlanjutan program penghijauan.

Melalui skema tersebut, setiap pengelola lahan akan memperoleh insentif sekitar Rp2,5 juta per bulan untuk perawatan dua hektare kawasan. Menurut Dedi, pendekatan itu sekaligus memberikan sumber penghasilan yang lebih stabil bagi warga sembari memastikan proses pemulihan lingkungan berjalan berkelanjutan.


Editor : Doni Ramdhani