Dedi Mulyadi Tawarkan Beasiswa untuk 40 Anak Papua Kuliah di Bandung
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menawarkan beasiswa untuk 40 anak Papua yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan kuliah di Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menawarkan beasiswa untuk 40 anak Papua yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan kuliah di Bandung.
Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) yang digelar di Jayapura, Papua baru-baru ini.
Tak hanya beasiswa pendidikan, dia juga akan menanggung biaya hidup 40 anak Papua selama kuliah di Bandung.
"Silakan kuliah di Bandung. Biaya hidupnya kami tanggung sampai dia selesai," ujar Dedi.
Selain menawarkan beasiswa, dalam lawatan ini ia juga mengajak dan mengingatkan pentingnya menjaga alam di Papua. Dedi mengatakan, alam tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan pembangunan jangka pendek.
Pembangunan kerap menekankan aspek teknokrasi, namun mengabaikan nilai budaya serta pengetahuan masyarakat adat. Padahal, menurutnya, masyarakat adat memiliki kearifan yang telah terbukti mampu menjaga alam selama ratusan tahun.
"Kita sering menganggap kaum adat sebagai orang yang tertinggal, padahal mereka adalah sumber pengetahuan. Leluhur kita mampu menjaga alam selama berabad-abad dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dengan baik," ucapnya.
Dedi mengatakan, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama puluhan tahun, menunjukkan adanya kesalahan dalam cara pandang pembangunan yang lebih berorientasi pada eksploitasi, daripada harmoni dengan alam.
Dia berharap agar Papua tidak mengulangi kesalahan yang sama. Menurutnya, Papua masih memiliki kekayaan alam dan budaya yang relatif terjaga, dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
"Saya melihat masih ada yang original di negeri ini namanya Papua. Di tempat kami sudah hampir tidak bisa mendapatkannya lagi. Di sini kami mendapat kejernihan air, kejernihan udara, dan alam yang sangat indah," katanya.
Doa menegaskan, hilangnya alam Papua akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat adat yang selama ini memiliki hubungan erat dengan lingkungan sekitarnya.
"Papua kehilangan alamnya maka rakyatnya akan lemah. Sistem keyakinan pada leluhurnya terputus oleh kehancuran ekologi," ujarnya.
Menurutnya, pembangunan di Papua harus berlandaskan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan penghormatan terhadap alam. Ia mendorong agar tata ruang dan kebijakan pembangunan disusun dengan mempertimbangkan aspek budaya masyarakat Papua sehingga mereka tidak terasing di tanah kelahirannya sendiri.
Dedi juga mengingatkan, agar investasi yang masuk ke Papua tidak menghilangkan identitas lokal. Ia bahkan mengusulkan seluruh bangunan publik, perkantoran, hotel, sekolah hingga stadion di Papua mengadopsi arsitektur khas Papua.
"Papua dibangun untuk orang Papua. Jangan sampai suatu saat orang Papua merasa bukan lagi tinggal di kampungnya sendiri," katanya.
Seperti diketahui, Papua kini tengah menjadi sorotan usai viralnya film dokumenter berjudul 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' karya Dandhy Laksono.
Film tersebut mengungkap adanya eksploitasi kompleks yang dilakukan terhadap alam Papua. Khususnya yang dialami masyarakat ada di Provinsi Papua Selatan, yang tengah berhadapan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) pemerintah pusat.
Di mana terjadi pembukaan hutan seluas 2,5 juta hektare untuk ketahanan pangan dan energi di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, serta Kabupaten Mappi.
Film dokumenter 'Pesta Babi' tersebut berdurasi sekitar 96 menit, digarap selama tiga tahun di lima distrik di Provinsi Papua Selatan oleh Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Koperasi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan LBH Papua Merauke.
Editor : Doni Ramdhani

