Demonstran Gunakan Ekskavator dalam Aksi, Nepal Bergejolak hingga Bandara Ditutup

Menurut laporan media internasional, sebanyak 19 orang dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan dalam upaya membubarkan massa.

Demonstran Gunakan Ekskavator dalam Aksi, Nepal Bergejolak hingga Bandara Ditutup
Demonstran Gunakan Ekskavator dalam Aksi

INILAHKORAN - Gelombang demonstrasi besar-besaran di Nepal berubah menjadi kerusuhan parah dalam sepekan terakhir. Aksi protes yang awalnya berlangsung sejak Kamis pekan lalu kini meluas di berbagai wilayah hingga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas publik.

Menurut laporan media internasional, sebanyak 19 orang dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan dalam upaya membubarkan massa. Polisi Nepal menggunakan gas air mata dan peluru karet, namun bentrokan justru semakin memanas.

Pemicu Kerusuhan: Larangan Media Sosial dan Isu Korupsi

Ketegangan kian meningkat setelah pemerintah memberlakukan larangan penggunaan media sosial, yang dinilai sebagai upaya membungkam kritik rakyat. Kebijakan ini justru memperluas gelombang protes yang awalnya menuntut transparansi, menjadi gerakan perlawanan besar terhadap korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak demonstran membakar dan merusak kediaman pribadi mantan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli yang telah mengundurkan diri. Insiden itu terjadi pada Selasa (9/8).

Parlemen Dibakar, Bandara Ditutup

Kerusuhan juga merambah ke pusat pemerintahan. Gedung parlemen Nepal dibakar massa, sementara kondisi di ibu kota Kathmandu semakin kacau hingga memaksa otoritas menutup Bandara Internasional Tribhuvan untuk sementara waktu.

Tak hanya itu, massa yang marah bahkan membawa alat berat jenis ekskavator untuk merusak fasilitas publik dan gedung pemerintahan. Situasi tersebut memperlihatkan betapa eskalasi protes di Nepal telah berubah menjadi krisis politik dan keamanan serius.

Krisis Politik Nepal Masih Berlanjut

Hingga kini, pemerintah Nepal belum memberikan solusi yang menenangkan masyarakat. Kondisi politik dalam negeri semakin goyah, dan komunitas internasional mulai menyoroti potensi dampak instabilitas di kawasan Asia Selatan.


Editor : Firda Rachmawati