Densus 88 Bongkar Jejak Ideologi Neo-Nazi di Balik Aksi Peledakan SMAN 72 Jakarta

Pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta diduga terisnpirasi dari enam tokoh kekerasan dunia.

Densus 88 Bongkar Jejak Ideologi Neo-Nazi di Balik Aksi Peledakan SMAN 72 Jakarta
Fakta pelaku yang melakukan peledakan di SMAN 72

INILAHKORAN - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap fakta baru di balik kasus peledakan di SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada Jumat (7/11/2025). 

Terduga pelaku yang masih berstatus anak berkonflik dengan hukum (ABH) diketahui terinspirasi dari sejumlah figur pelaku kekerasan ekstrem di dunia dan aktif dalam komunitas daring yang mengagungkan tindakan brutal.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan pelaku meniru sedikitnya enam tokoh terkenal dalam sejarah serangan kekerasan global. 

“Ada sekitar enam figur yang menjadi sumber inspirasi pelaku,” ujar Eka dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Beberapa di antaranya adalah Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan massal di Columbine High School, Amerika Serikat, pada 1999 yang dikenal menganut paham Neo-Nazi. 

Gerakan ini merupakan ideologi ekstrem kanan yang menghidupkan kembali nilai-nilai Nazi Jerman, menonjolkan supremasi ras Arya dan kebencian terhadap kelompok minoritas.

Selain itu, pelaku juga mengagumi sosok Dylan Roof, pelaku penembakan di Gereja Charleston, South Carolina, pada 2015 serta Alexandre Bissonnette, pelaku serangan di Gereja Quebec, Kanada, pada 2017. 

Keduanya menganut ideologi White Supremacy, yang menganggap ras kulit putih lebih unggul dibanding ras lainnya.

Tokoh lain yang turut memengaruhi pelaku adalah Vladislav Roslyakov, pelaku serangan di Politeknik Kerch, Rusia, pada 2018, yang juga berpaham Neo-Nazi; serta Brenton Tarrant, pelaku penembakan brutal di Masjid Christchurch, Selandia Baru, pada 2019, yang menganut paham fasis, rasis, dan etno-nasionalis.

“Terakhir, pelaku juga mengikuti kisah Natalie Lynn Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, Amerika Serikat, pada 2024, yang juga menganut ideologi Neo-Nazi,” tambah Eka.

Lebih lanjut, Densus 88 menemukan bahwa pelaku aktif dalam sebuah komunitas di media sosial yang memuja kekerasan. Di komunitas tersebut, tindakan kejam justru dianggap sebagai bentuk keberanian dan kepahlawanan.

“Ketika seseorang melakukan aksi kekerasan dan membagikannya di komunitas itu, mereka akan mendapat apresiasi dan dianggap sebagai sosok heroik,” jelas Eka.


Editor : Firda Rachmawati