Dinkes Jabar Turut Serta Tangani Pasien Korban Keracunan MBG di Cipongkor KBB
Dinkes Jabar turut serta menangani pasien, korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dinkes Jabar turut serta menangani pasien, korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
Dimana total korban kini berjumlah 411 orang, terdiri dari pelajar PAUD hingga SMA/SMK. Dari jumlah tersebut, 47 orang masih menjalani rawat inap dan 364 orang menjalani rawat jalan di beberapa lokasi, yakni di RSUD Cililin, Puskesmas Cipongkor, GOR Kecamatan Cipongkor dan RSIA Anugrah.
Ratusan pelajar ini mengalami keracunan makanan, usai mengonsumsi menu MBG pada Senin 22 September 2025 lalu.
Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi mengaku tengah berada di lokasi penanganan korban, untuk membantu pengobatan pasien keracunan MBG.
"Ini saya lagi ngurusin pasien. Ngurusin yang Cipongkor," kata Vini singkat, saat dihubungi INILAH, Rabu 24 September 2025.
Sebelumnya, Sekda Jabar Herman Suryatman menuturkan, saat ini pihaknya tengah fokus dalam menangani para korban keracunan MBG.
Sebab, mau tidak mau Pemprov Jabar tetap harus ikut bertanggungjawab, meski program MBG ini merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, lantaran persoalan terjadi di Jabar kata dia, maka Pemprov memiliki tanggungjawab untuk membantu mengurai permasalahan tersebut.
"Kami sudah tugaskan kepala dinas untuk cek-ricek lapangan, bersama Dinas Kesehatan, BGN untuk mendalami. Tentu yang pertama secepatnya menolong semua korban agar bisa pulih. Menolong dulu anak-anak yang keracunan ini," ujar Sekda Herman di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 23 September 2025 kemarin.
Setelah penanganan korban, pihaknya juga mendesak agar dilakukan evaluasi penyebab keracunan siswa usai mengonsumsi MBG.
"Apakah karena kelalaian atau faktor yang lainnya. Tentu kan didalami, tentu bersama dari BGN yang punya otoritas. Ada beberapa SPPG yang membuat anak keracunan. Kami masih menunggu dari Dinkes yang sedang koordinasi dengan teman-teman dari BGN, dari SPPG," kata dia.
Usai evaluasi, tentu kata Sekda Herman harus dilakukan perbaikan. Mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga pengawasan.
"(Tetapi) Ini kan kita tidak bisa menduga-duga, harus ada pendalaman dulu, baru kita tentukan solusi terbaik agar tidak kejadian lagi," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani
