Kasus ISPA di Jabar Mulai Menurun, Sempat Naik Saat Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau
Dinkes Jabar memastikan kasus ISPA mulai menurun setelah sempat meningkat dari 6.000 menjadi 8.000 kasus saat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat memastikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Barat mulai mengalami penurunan.
Sebelumnya, kasus ISPA di Jabar sempat mengalami peningkatan saat erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dari erupsi tersebut dilaporkan masuk ke sejumlah wilayah Jawa Barat dan berdampak pada peningkatan laporan kasus ISPA.
Kepala Dinkes Jabar Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, pada awal 2026 atau sekitar pekan ke-36, jumlah kasus ISPA masih relatif rendah. Namun, saat terjadi paparan abu vulkanik, laporan kasus meningkat dari sekitar 6.000 menjadi 8.000 kasus dalam sepekan.
“Kita kan kalau melihat sesuatu itu dihitung per minggu, di minggu ke-36 itu memang ada peningkatan, terutama pada saat kemarin terjadi abu vulkanik. Ya, yang tadinya kalau tidak salah 6.000 tuh naik sampai 8.000 se-Jawa Barat,” kata Vini di Kota Bandung, baru-baru ini.
Meski mengalami peningkatan, Vini menyebut jumlah tersebut masih berada di bawah ambang batas kewaspadaan yang digunakan pemerintah dalam memantau potensi kejadian luar biasa atau kondisi kegawatdaruratan kesehatan.
“Tapi ada batas maksimal namanya. Ya, batas maksimal itu kalau di atas 8.000, nah itu kita tidak melampaui batas itu. Jadi kalau melampaui batas itu baru kita ada kegawatdaruratan,” ucapnya.
Dengan kondisi tersebut, Dinkes Jabar tidak mengategorikan peningkatan laporan ISPA sebagai lonjakan kasus yang memerlukan penetapan status darurat.
“Jadi tidak dimasukkan bahwa ini adalah sebuah kasus yang melonjak tajam gitu ya,” katanya.
Vini mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, peningkatan laporan kasus ISPA paling banyak terjadi di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Kota Depok dan Kota Bekasi menjadi wilayah yang mencatat kenaikan laporan ISPA cukup signifikan dibandingkan sejumlah daerah lainnya.
“Nah, tapi itu terjadi ternyata sebagian besar di daerah-daerah yang terkena abu Depok, Bekasi, ya. Itu kenaikan signifikan pelaporan ISPA-nya memang,” tutur Vini.
Meski kasus mulai menurun, Dinkes Jabar tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan ISPA di seluruh kabupaten dan kota.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi kembali peningkatan kasus, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak paparan abu vulkanik maupun faktor lingkungan lainnya.***
Editor : JakaPermana

