Kasus ISPA di KBB Melonjak 555 Kasus dalam Sepekan, Dinkes Keluarkan Peringatan Dini
Dinkes KBB mengeluarkan peringatan dini setelah kasus ISPA melonjak 555 kasus dalam sepekan. Kasus ILI dan pneumonia juga mengalami peningkatan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengeluarkan peringatan dini menyusul lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Influenza-Like Illness (ILI), dan Pneumonia pada Minggu Epidemiologi ke-36 tahun 2026.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), kasus ISPA mengalami lonjakan hingga 555 kasus dalam satu pekan, sementara kasus ILI bertambah sebanyak 46 kasus.
Data kumulatif Minggu Epidemiologi ke-32 hingga ke-36 menunjukkan tren peningkatan kasus, terutama pada periode terbaru.
Kasus ISPA tercatat sebanyak 1.780 kasus pada Minggu ke-32, kemudian 1.769 kasus pada Minggu ke-35 dan kembali melonjak menjadi 2.324 kasus pada Minggu ke-36.
Sementara itu, kasus ILI meningkat dari 95 kasus pada Minggu ke-32 menjadi 136 kasus pada Minggu ke-35, kemudian kembali naik menjadi 182 kasus pada Minggu ke-36.
Untuk pneumonia, jumlah kasus tercatat 245 kasus pada Minggu ke-35 dan meningkat menjadi 258 kasus pada Minggu ke-36.
Kepala Dinkes KBB Lia N. Sukandar mengatakan, peningkatan kasus dari Minggu ke-35 menuju Minggu ke-36 menjadi perhatian serius dan membutuhkan respons cepat dari jajaran kesehatan maupun masyarakat.
“Peningkatan kunjungan dan penemuan kasus dengan gejala gangguan saluran pernapasan perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Lia, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut bukan sekadar angka statistik. Setiap kenaikan kasus turut meningkatkan beban pelayanan di puskesmas maupun rumah sakit.
Jika tidak segera dikendalikan, penularan penyakit saluran pernapasan berpotensi menyebar lebih cepat, terutama di lingkungan dengan kepadatan tinggi seperti sekolah, pondok pesantren, tempat kerja dan permukiman.
“Peningkatan kasus ISPA, ILI, dan pneumonia dapat menyebabkan peningkatan beban pelayanan kesehatan serta berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa apabila tidak dilakukan deteksi dan penanganan secara tepat,” tegasnya.
Dinkes KBB Perkuat Surveilans
Lia menuturkan, Dinkes KBB memperkuat sejumlah langkah pengendalian, mulai dari surveilans, promosi kesehatan hingga kampanye pencegahan yang melibatkan organisasi masyarakat dan kearifan lokal.
Edukasi kepada masyarakat juga difokuskan pada pentingnya imunisasi, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, penderita penyakit penyerta atau komorbid, serta pelaku perjalanan luar negeri.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal ISPA.
“Segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama apabila mengalami gejala ISPA, seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek atau hidung berair, rasa lelah, sakit kepala, dan nyeri otot,” imbau Lia.
Selain itu, masyarakat diminta konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau pembersih tangan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sakit atau berada di tempat ramai.
Penanggung jawab sekolah, asrama, pondok pesantren dan tempat kerja juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan kasus secara berkelompok.
Apabila ditemukan kasus yang mengarah pada penularan berkelompok, pihak terkait diminta segera melaporkannya kepada puskesmas terdekat.
“Di tingkat fasilitas kesehatan, Dinkes mewajibkan skrining ketat. Pasien yang masuk dengan demam di atas 38°C disertai batuk berdurasi tidak lebih dari 10 hari dan memerlukan rawat inap akan diperiksa secara khusus untuk mencegah penularan di lingkungan pelayanan,” paparnya.***
Editor : JakaPermana

