Dorong Potensi Usaha Rintisan Pangan

Guna meningkatkan daya saing bangsa di era revolusi industri 4.0 ini, upaya untuk mendirikan usaha rintisan atau start-up berbasis pangan relatif potensial dikembangkan di Indonesia.

Dorong Potensi Usaha Rintisan Pangan
INILAH, Bandung - Guna meningkatkan daya saing bangsa di era revolusi industri 4.0 ini, upaya untuk mendirikan usaha rintisan atau start-up berbasis pangan relatif potensial dikembangkan di Indonesia.
 
Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kavadya Syska mengatakan, dorongan itu sesuai dengan potensi pertanian, peternakan, dan perikanan yang melimpah di Indonesia. Tingginya potensi itu merupakan modal besar untuk mengembangkan start-up berbasis pangan.
 
“Upaya pengembangan start-up pangan di Indonesia adalah bagian dari peningkatan daya saing bangsa untuk menciptakan wirausaha berbasis pangan sekaligus meningkatkan gairah pada sektor pangan di era revoluasi industri 4.0,” katanya seperti dikutip Antara,Jumat (22/2/2019).
 
Menurutnya, dalam pelaksanaannya start-up pangan ini dapat berdampingan dengan pedagang pasar tradisional. Usaha rintisan berbasis pangan ini bisa mengambil peran mulai dari on-farm hingga off-farm. Bahkan, bidang kajiannya tidak hanya tanaman namun bisa perikanan dan peternakan.
 
Sektor pangan diakuinya merupakan bagian fundamental dari sektor kehidupan manusia. Sehingga, peningkatan start-up pangan ini akan memberikan dampak terhadap ketahanan pangan dan daya saing produk pangan di Indonesia. Usaha rintisan ini bisa berbentuk agro start-up yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membeli cabai atau komoditas lainnya langsung dari petani.
 
Pemerintah bisa memberikan dukungan terhadap agro start-up salah satunya dengan memberikan edukasi teknologi berbasis telepon selular atau smartphone kepada petani dan pedagang. Selain itu, pemerintah bisa lebih banyak menyediakan pasar bersih hingga gerai-gerai khusus pengemasan. 
 
“Tak hanya meningkatkan saya saing bangsa. Berkembangnya start-up berbasis pangan ini juga dapat menjadi salah satu kado bagi Indonesia Emas 2045 mendatang,” ucap perempuan yang juga Koordinator Program Studi Teknologi Pangan UNU Purwokerto itu.
 
Secara bisnis, start-up berbasis pangan dapat membantu petani dan pedagang pasar menikmati proses bisnis yang terukur dengan keuntungan yang seimbang. Peningkatan teknologi pascapanen produk pertanian perlu ditekankan kuat untuk petani dan pedagang pada sistem ini.
 
Kavadya menyebutkan, ada model sederhana yang dapat diterapkan pada start-up berbasis pangan. Pertama, komponen sistem terdiri atas start-up berbasis pangan, petani, pedagang pasar, konsumen, jasa transportasi, dan bank. 
 
Dia mencontohkan, semisal agro start-up itu berperan mengembangkan sistem daring pada start-up produk pertanian. Petani dan kelompok tani bisa melakukan update info produk sesuai dengan spesifikasi yang tersedia lalu pedagang pasar melakukan update info produk sesuai dengan spesifikasi yang tersedia. 
 
Sedangkan, penyedia layanan jasa transportasi memberikan jasa antarproduk yang dipesan dan bank memberikan peran pada transaksi pembayaran e-pay. Pembayaran pada sistem ini online dan offline. Khusus pembayaran offline produk dibayar jasa transportasi selanjutnya konsumen akan membayar biaya produk dan transport setelah barang diterima.
 
Sementara itu, model bisnis sistem logistik pangan berbasis digital ini sempat dikembangkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar dalam sebuah seminar. Kepala KPwBI Jabar Doni P Joewono mengatakan, kebutuhan sistem logistik digital itu mutlak dikembangkan di era teknologi digital saat ini. Tak hanya itu, dukungan teknologi finansial pun akan meningkatkan daya saing pertanian.
 
“Dengan adanya sistem logistik dalam sektor pertanian ini yang menerapkan prinsip ekonomi berbagi (sharing economy) diharapkan memberikan peluang yang selama ini tidak terdapat dalam bisnis pangan konvensional,” kata Doni.
 
Dia menyebutkan, khusus inovasi agricity logistics dan marketing, pihaknya menggandeng start-up bernama Locarvest. Dengan kehadiran Locarvest, diharapkan kesejahteraan petani meningkat yang berujung pada pergerakan roda perekonomian Jabar relatif lebih cepat. 
 
CEO Locarvest Anggita Kharisma mengaku pihaknya bisa mempertemukan antara produsen dan konsumen. Bekerja sama dengan lebih dari 1.200 petani, Locarvest mempu menyediakan 65 komoditas pangan. Para petani mitra kerja itu membentuk satu pola tanam, pola simpan, pola panen, dan pola kirim sehingga menjamin ketersediaan produk.
 
Locarvest berkomitmen untuk menjadi mitra dan memberikan nilai yang berkeadilan bagi petani melalui rantai pasok yang lebih efisien. Bagi konsumen, Locarvest berkomitmen untuk memberikan edukasi dan penyediaan produk pertanian berkualitas dan berkelanjutan. 
 
“Dengan memutus rantai pasok, setiap produk yang dijual harganya dapat lebih terjangkau. Biasanya, untuk penjualan sayuran ini melibatkan para tengkulak/bandar yang membeli ke petani. Petani biasanya menerima harga yang sebenarnya ditentukan bandar. Sebelum memasarkan ke konsumen, para tengkulak itu biasanya menaikkan margin sekitar 20%. Keadaan ini kerap mengakibatkan ketidakstabilan harga komoditas di pasaran,” jelasnya.


Editor : inilahkoran