Dugaan Keracunan MBG di Cisarua, SPPG Panyandaan Soroti Proses Pengolahan
SPPG Panyandaan membantah lalai dalam dugaan gangguan kesehatan 14 siswa SDN Garuda Kertawangi. Operasional dapur dihentikan 20 hari dan hasil uji lab ditunggu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panyandaan di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), membantah tudingan kelalaian terkait dugaan gangguan kesehatan yang dialami 14 siswa SDN Garuda Kertawangi setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pihak SPPG Panyandaan menyatakan seluruh prosedur operasional standar telah diterapkan sejak proses pengolahan hingga makanan diantarkan ke sekolah pada Selasa, 29 September 2026.
Kepala SPPG Panyandaan, Satia Wiguna Muliarta, mengakui terdapat kemungkinan kesalahan manusia dalam proses pengolahan makanan. Namun, ia menegaskan hal tersebut bukan karena makanan sudah tidak layak dikonsumsi.
Ia juga memastikan pemeriksaan kualitas makanan dilakukan sebelum makanan dikirimkan ke sekolah sehingga dugaan makanan basi masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
"Prosedur-prosedur itu sebenarnya sudah kami terapkan dari awal sampai akhir bahkan saya monitoring langsung bersama tim," kata Satia, Selasa (6/10/2026).
SPPG Panyandaan Soroti Proses Pengolahan Makanan
Satia mengatakan, dugaan sementara mengarah pada proses pengolahan makanan, terutama ketika makanan sedang digoreng.
Menurutnya, kemungkinan tersebut masih menjadi bahan evaluasi, termasuk kemungkinan adanya keterbatasan sumber daya manusia di dapur SPPG Panyandaan.
"Dugaan kami kesalahan tersebut terjadi pada proses pengolahan makanan terutama saat menggoreng. Kalau basi itu tidak karena di dalam kan kami cek juga. Mungkin ada masalah dalam proses pengolahan atau kemungkinan bisa jadi karena keterbatasan sumber daya atau hal lainnya," ucapnya.
Keterbatasan jumlah tenaga kerja di dapur kini turut ditelaah untuk mengetahui apakah kondisi tersebut berpengaruh terhadap proses pengolahan makanan.
Dinkes KBB Masih Tunggu Hasil Uji Laboratorium
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan saat kejadian.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Adapun menu yang disajikan saat kejadian terdiri atas nasi putih, chicken cordon bleu, kacang, dan buah kelengkeng.
Sampai hasil pemeriksaan keluar, penyebab gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan proses pengolahan maupun kondisi makanan.
Operasional SPPG Panyandaan Dihentikan Sementara
Operasional dapur SPPG Panyandaan telah dihentikan sementara selama 20 hari ke depan.
Selain penghentian operasional, tim penanganan khusus bersama Dinas Kesehatan juga tengah mempertimbangkan pencabutan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) tempat tersebut.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan proses evaluasi untuk mengetahui faktor yang menyebabkan dugaan gangguan kesehatan setelah siswa mengonsumsi makanan dari program MBG.
SPPG Panyandaan Pernah Hadapi Kasus Serupa
Kasus dugaan gangguan kesehatan ini bukan kali pertama dikaitkan dengan penyedia layanan yang sama.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, ratusan siswa SMPN 1 Cisarua juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menerima makanan dari penyedia layanan tersebut.
Terkait tindak lanjut kasus terbaru, Satia mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan yayasan dan pimpinan untuk membahas langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan adanya sanksi dari Badan Gizi Nasional.
"Saya belum berkomunikasi langsung sedang berkoordinasi dengan pihak yayasan atau pimpinan terkait perubahannya. Saya harus menunggu jawaban dari pihak terkait apalagi mengenai hal-hal yang akan kami bahas," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

