Marak Flexing di Dunia Trading, Praktisi Imbau Masyarakat Tak Tergiur Lakukan Ini Agar 'Selamat'
Soal fenomena flexing di dunia trading, pakar bisnis Yadi Supriadi mewanti-wanti masyarakat untuk tidak tergiur melakukan ini...
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Fenomena flexing atau pamer kekayaan di dunia trading sedang marak.
Namun, sorotan terkait flexing di dunia trading mendapat sorotan tajam dari praktisi bisnis, Rhenald Kasali.
Blak-blakan, Rhenald Kasali membongkar praktik flexing di dunia trading yang ternyata menguak fakta mengejutkan.
Baca Juga: Sudah 3 Hari Warga Garut Ketakutan, Akhirnya Terungkap Asal Suara Gemuruh dari Gunung Guntur
Rhenald Kasali mengungkap adanya broker saham tak bertanggung jawab yang kerap melakukan flexing dalam strategi marketing demi menarik minat masyarakat.
Ungkapan Rhenald Kasali diperkuat dengan pernyataan dari pakar bisnis lainnya Yadi Supriadi.
Menurut Yadi Supriadi fenomena flexing di dunia trading sebagai hal yang wajar sepanjang informasi yang disebarkan tidak membodohi atau menipu publik.
Baca Juga: Bukan Cuma Cuci Piring, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan 2 Tugas Istri untuk Mendapat Surga
"Dan kita yang mengonsumsi harus jauh lebih bijak menanggapinya. Cari tahu mendalam segala informasi yang terkait," ujarnya di Bandung, Selasa 8 Februari 2022.
Menurut Yadi Supriadi, hebohnya fenomena flexing tak lepas dari perkembangan teknologi yang semakin canggih di dunia saat ini.
Pria yang akrab disapa Supri FX itu menyebut, hal itulah yang menjadi pemicu utama munculnya flexing.
"Nah, teknologi ini digunakan untuk strategi promosi online. Banyak sekali fenomena flexing dijadikan bahan pembuktian dari hal atau sesuatu yang dipromosikan," terang Komisaris Utama PT Didi Max Berjangka sekaligus owner Didi Group tersebut.
Baca Juga: Deretan Fakta Terbaru Pasien Varian Omicron, Gejala Ringan dan Sembunya Cepat
Kondisi ini, lanjut Supri, diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 dimana banyak sekali masyarakat yang mencari tahu tentang bisnis online, agar mudah menghasilkan keuntungan.
Namun, lanjutnya, masyarakat tidak berpikir panjang dan mencari tahu tentang bisnis online yang mereka anggap mampu menghasilkan keuntungan besar itu. Akibatnya, banyak masyarakat yang akhirnya menjadi korban flexing.
"Tercatat mulai dari 2020 Corona muncul banyak sekali orang yang mencari tahu bisnis online, untuk mempermudah menghasilkan keuntungan tanpa pikir panjang, tanpa mencari tahu informasinya lebih dalam, dan hanya mengandalkan visual. Banyak sekali korban flexing," paparnya.
Baca Juga: Kunci Jawaban Tebak Kata Shopee Level 86, 87, 88, 89, 90, Dapatkan Hadiah Menarik
Sebagai pemilik perusahaan pialang berjangka pertama di Indonesia dengan sistem Direct Access yang juga menjadi sponsor ship Persib Bandung itu, Supri pun berbagi pengalaman, agar masyarakat tidak menjadi korban flexing dalam dunia trading.
Menurutnya, trading yang baik dan benar itu adalah yang mengetahui risiko dan reward yang didapat dengan cara memahami ilmu dan teknik trading. Bahkan, meski bergerak dalam usaha trading, Supri justru mengimbau masyarakat tidak menitipkan dana trading.
"Risiko dan reward dapat kita pelajari dengan memahai ilmu dan teknik trading. Tidak titip dana trading!" tegasnya.
Baca Juga: Shin Tae Yong Galau Banyak Pemain Belum Gabung Timnas U23, Piala AFF Tinggal Sepekan Lagi...
Dia menjelaskan, menitipkan dana trading sangat berisiko. Pasalnya, masyarakat tidak pernah tahu, apakah orang yang menerima titipan dana tersebut mumpuni atau tidak dalam bisnis trading.
"Dan urusan uang itu semua sensitif, rentan dibawa kabur. Jadi, lebih baik kelola dana sendiri dan pahami ilmunya karena trading forex ini bisnis jangka panjang yang keuntungannya bisa kita buat sendiri dan risiko kita bisa minimalisir sendiri," jelasnya.
Meski begitu, Supri mengakui bahwa trading menjadi ceruk bisnis yang menjanjikan. Bahkan, dia pun mengamini bahwa trading dapat menjadi jalan pintas untuk menjadi kaya. Asalkan, mampu mengendalikan diri saat menjalankan bisnis trading.
Baca Juga: Persija vs Madura United, Ini 'Barisan Mantan' yang Siap Lukai Macan Kemayoran
"Trading forex ini bisnis yang keuntungannya tidak terbatas, saking tidak terbatasnya membuat orang-orang haus atau serakah untuk cepat mendapatkan keuntungan besar," katanya.
"Perlu digaris bawahi, setiap bisnis akan selalu ada risiko, tapi risikonya bisa kita minimalisir dengan cara mengendalikan diri sendiri, paham akan ilmu trading yang baik, serta konsisten menjalankan money managementnya," sambungnya.
Supri pun memberikan tips, agar masyarakat terhindar dari flexing saat trading, di antaranya gali lebih dalam informasi dan cari tahu segala hal yang berkaitan dengan trading. Bahkan, perlu juga mencari tahu tentang perusahaan, termasuk perputaran uangnya.
"Jangan sampai kena tipuan dan jangan mau di iming-imingi keuntungan yang tidak masuk akal," tandasnya.
Baca Juga: Kunci Jawaban Tebak Kata Shopee Level 76, 77, 78, 79, 80, Dapatkan Hadiah Menarik
Diketahui, masyarakat dihebohkan oleh fenomena flexing dalam dunia trading pasca Rhenald Kasali tampil dalam acara podcast bersama Deddy Corbuzier, Rabu 2 Februari 2022 lalu.
Saat itu, Rhenald Kasali membongkar adanya broker saham tak bertanggung jawab yang kerap melakukan praktik flexing dalam strategi marketing demi menarik minat pelanggannya.
"Lewat broker saham bodong, ceruk pasar akan dimanfaatkan dengan para pemain baru yang masuk ke dunia pasar modal," ungkap Rhenald Kasali.
Baca Juga: DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung Barat Targetkan Kemenangan Telak di Pilkada Serentak 2024.
Bahkan, Rhenald Kasali membeberkan terdapat 2 sampai 4 juta investor baru yang menanamkan modal di pasar modal Indonesia. Namun, ada bahaya yang mengintai mereka.***(Rianto Nurdiansyah)
Editor : inilahkoran


