Ekspor Tembus Rp10 Triliun, Bio Farma Raih Primaniyarta 2026 Berkat Optimalisasi FTA

Bio Farma meraih Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat FTA setelah mencatat ekspor kumulatif lebih dari Rp10 triliun sepanjang 2021–2025. Salin deskrip

Ekspor Tembus Rp10 Triliun, Bio Farma Raih Primaniyarta 2026 Berkat Optimalisasi FTA
Bio Farma meraih Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat FTA setelah mencatat ekspor kumulatif lebih dari Rp10 triliun sepanjang 2021–2025. Salin deskrip

INILAHKORAN.ID – PT Bio Farma (Persero) memperkuat penetrasi pasar internasional melalui optimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Strategi tersebut mengantarkan perusahaan farmasi milik negara itu meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat FTA, setelah mencatatkan ekspor kumulatif lebih dari Rp10 triliun sepanjang 2021–2025.

Penghargaan dari Kementerian Perdagangan tersebut diterima Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026).

Penghargaan ini menjadi Primaniyarta ke-12 bagi Bio Farma sejak 2010. Pada penyelenggaraan TEI tahun sebelumnya, Bio Farma juga menerima Primaniyarta kategori Lifetime Achievement Award dan tercatat sebagai satu-satunya badan usaha milik negara (BUMN) penerima penghargaan tersebut pada 2025.

Kinerja ekspor Bio Farma ditopang jaringan distribusi vaksin yang menjangkau lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika. Produk perusahaan dipasarkan melalui pengadaan institusional serta kerja sama bilateral dengan berbagai mitra di sektor kesehatan.

Sejak memasuki pasar global pada 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin. Perusahaan juga memiliki kapasitas produksi hingga 3,1 miliar dosis per tahun, dengan 20 produk yang telah memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Portofolio ekspor Bio Farma mencakup vaksin bakterial dan viral, seperti vaksin polio dan campak, serta bahan aktif vaksin atau vaccine drug substances. Capaian tersebut menunjukkan peran industri vaksin nasional dalam memenuhi kebutuhan imunisasi lintas negara sekaligus memperkuat ekspor produk kesehatan Indonesia.

Optimalisasi FTA Perluas Akses Pasar Global

Kategori Eksportir Pemanfaat FTA diberikan kepada eksportir yang memanfaatkan skema perdagangan bebas untuk meningkatkan penjualan ke luar negeri dan memperluas akses pasar internasional.

Bagi Bio Farma, optimalisasi FTA menjadi salah satu strategi untuk membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan internasional, dan meningkatkan daya saing produk kesehatan Indonesia.

Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus memperkuat posisi produk kesehatan Indonesia di pasar global.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis, serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” ujar Fitri dalam keterangannya yang diterima Rabu (21/10/2026).

Fitri menambahkan, pengembangan pasar luar negeri akan dilakukan melalui inovasi, peningkatan mutu produk, dan penguatan kerja sama lintas negara. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga pertumbuhan ekspor sekaligus memperbesar kontribusi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global.

“Kami berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia,” ucapnya.

Kembangkan Vaksin untuk Perkuat Kemandirian Industri

Di tengah ekspansi pasar internasional, Bio Farma juga mengembangkan teknologi untuk memperkuat kemandirian industri vaksin nasional. Salah satunya melalui Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan melalui tahapan kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis, dan evaluasi regulator hingga memperoleh persetujuan pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pengembangan Bio-TCV ditujukan untuk memperkuat penguasaan teknologi konjugasi dan meningkatkan kemampuan produksi vaksin di dalam negeri. Bio Farma juga berupaya menjaga kesinambungan pasokan, memperluas akses masyarakat, serta menyediakan vaksin berkualitas dengan harga kompetitif.

Selain Bio-TCV, perusahaan mengembangkan Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI). Produk tersebut telah memperoleh nomor izin edar dari BPOM pada 2 September 2026.

Pengembangan Bio-RV mencakup penelitian, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, serta persiapan manufaktur di Indonesia bersama akademisi nasional dan mitra global. Vaksin ini diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit akibat rotavirus sejak dini.

Penguasaan teknologi dan proses produksi Bio-RV di dalam negeri juga diharapkan menjaga ketersediaan pasokan serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Bersama Bio-TCV, pengembangan vaksin tersebut menjadi bagian dari upaya Bio Farma mengintegrasikan riset, teknologi, dan produksi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.

TEI Dorong Transaksi Perdagangan Internasional

Sementara itu, penyelenggaraan TEI ke-41 menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas transaksi perdagangan dengan pembeli internasional.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan nilai transaksi dalam pameran tersebut mencapai 17,5 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan target tahun sebelumnya sebesar 16,5 miliar dolar AS.

Budi mengapresiasi kontribusi eksportir dan berbagai pihak yang mendukung promosi produk nasional ke pasar internasional.

“Kami berharap capaian transaksi dagang Trade Expo Indonesia sesuai target, bahkan mudah-mudahan melebihi target,” kata Budi.

Sebagai BUMN di bidang life science yang menjadi bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma melanjutkan transformasi melalui penguatan tata kelola, inovasi, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi dari riset hingga distribusi.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga daya saing perusahaan di pasar global sekaligus mendukung kemandirian industri farmasi, ketahanan kesehatan nasional, dan ketersediaan produk kesehatan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.***


Editor : JakaPermana