Bio Farma Perkuat Kolaborasi Indonesia-Ghana untuk Membangun Ketahanan Kesehatan
Bio Farma terus memperkuat kolaborasi internasional membangun ketahanan kesehatan global sekaligus memperluas kontribusi Indonesia di tingkat internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bio Farma terus memperkuat kolaborasi internasional dalam membangun ketahanan kesehatan global sekaligus memperluas kontribusi Indonesia di tingkat internasional.
Melalui kemitraan strategis dengan Atlantic Lifesciences (ALS), Ghana, Bio Farma menjalankan program transfer teknologi vaksin tetanus dan difteri (Td) untuk mendukung pengembangan kapasitas manufaktur vaksin lokal di Ghana.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Indonesia dalam memperkuat kemampuan negara berkembang untuk membangun kapasitas produksi vaksin yang lebih mandiri dan berkelanjutan, khususnya di kawasan Afrika Barat.
Kerja sama Bio Farma dan ALS telah memasuki tahap implementasi teknis setelah melalui rangkaian tahapan strategis sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Desember 2023, dilanjutkan dengan penandatanganan Master Agreement Transfer Teknologi Vaksin Td pada September 2024, serta perjanjian implementasi berupa Tech Transfer Agreement dan Sales Agreement pada Agustus 2025.
Melalui program itu, Bio Farma tidak hanya berperan sebagai pemasok vaksin, tetapi juga sebagai mitra teknologi dan pengembangan kapasitas manufaktur lokal.
Bio Farma mendukung penyediaan teknologi, bantuan teknis, serta suplai Td Final Bulk Ready to Fill (RTF), sementara ALS akan mengembangkan kapabilitas lokal untuk proses fill-finish, pengendalian mutu (quality control), pengemasan, registrasi, hingga manufaktur komersial di Ghana.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menyampaikan, penguatan ketahanan kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas negara yang tidak berhenti pada penyediaan produk, tetapi juga membangun kemampuan produksi, sumber daya manusia, dan ekosistem industri kesehatan yang berkelanjutan.
"Kemitraan Bio Farma dan Atlantic Lifesciences merupakan bentuk nyata kontribusi Indonesia dalam membangun ketahanan kesehatan global. Melalui transfer teknologi, kami ingin tumbuh bersama mitra dengan membangun kemampuan manufaktur dan sumber daya manusia, sehingga negara mitra semakin memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakatnya," ujar Shadiq dalam keterangan remi yang diterima, Selasa (29/9/2026).
Menurut Shadiq, saat ini proyek tengah menuju salah satu tahapan penting, yaitu Process Performance Qualification (PPQ) atau validasi proses, yang direncanakan berlangsung pada Oktober 2026 hingga Januari 2027. Tahapan tersebut selanjutnya akan diikuti oleh proses registrasi dan inspeksi oleh Ghana Food and Drugs Authority (Ghana FDA) pada Januari hingga Mei 2027.
Apabila rangkaian validasi berhasil diselesaikan, data stabilitas memenuhi persyaratan, persetujuan regulator diperoleh, serta kesiapan pengadaan terpenuhi, pasokan komersial vaksin Td melalui fasilitas lokal di Ghana ditargetkan dapat dimulai pada tahun 2027.
Dalam jangka panjang, kolaborasi ini juga membuka peluang bagi Ghana untuk berkembang menjadi salah satu platform manufaktur dan pasokan vaksin bagi kawasan Afrika Barat. Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan ketentuan registrasi, regulasi, serta mekanisme di masing-masing negara.
Program transfer teknologi vaksin Td ini sekaligus menjadi bagian dari pengembangan model bisnis Bio Farma berbasis license-out dan technology transfer. Dengan pendekatan tersebut, kontribusi Indonesia di pasar internasional tidak hanya diwujudkan melalui ekspor produk jadi, tetapi juga melalui transfer pengetahuan, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan kemampuan industri kesehatan negara mitra.
Kolaborasi Bio Farma dan ALS juga merupakan contoh konkret South-South Cooperation antara Indonesia dan Ghana di bidang ketahanan kesehatan, manufaktur lokal, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Briefing Note sendiri menempatkan proyek ini sebagai salah satu implementasi nyata kerja sama Indonesia-Ghana di bidang health security, local manufacturing, dan capacity building.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma juga terus mendorong agar kolaborasi internasional perusahaan menghasilkan nilai yang lebih luas bagi masyarakat dan Indonesia. Pengembangan kapasitas manufaktur vaksin diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan akses terhadap produk kesehatan, sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan ekosistem kesehatan di negara mitra.
Kolaborasi ini menunjukkan kemampuan industri strategis Indonesia untuk membawa teknologi, pengetahuan, dan kapabilitas manufaktur ke pasar internasional. Model technology transfer dan license-out juga membuka ruang bagi Bio Farma untuk memperluas model bisnis dan memperkuat daya saing industri kesehatan Indonesia di tingkat global. Transfer teknologi dan pembangunan kapasitas lokal diarahkan untuk menciptakan manfaat jangka panjang. Kolaborasi tidak berhenti pada penjualan produk, tetapi juga membangun kemampuan produksi dan pengetahuan yang dapat terus berkembang serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia dapat berkontribusi lebih jauh dalam ekosistem kesehatan global. Bukan hanya melalui produk yang kami hasilkan, tetapi juga melalui teknologi, pengetahuan, dan kolaborasi. Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma akan terus mendorong kinerja dan ekspansi internasional yang memberikan manfaat bagi kualitas hidup masyarakat, memperkuat daya saing Indonesia, serta menciptakan nilai berkelanjutan,” jelas Shadiq.
Melalui kolaborasi dengan Atlantic Lifesciences, Bio Farma menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi dalam membangun ketahanan kesehatan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia di tingkat internasional, dengan membawa kemampuan industri kesehatan nasional sebagai bagian dari solusi atas kebutuhan kesehatan global.
Editor : Doni Ramdhani

