Erwan Akui Masih Banyak Masyarakat di Jabar yang Terafiliasi dengan NII

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengakui, masih banyak masyarakat di Jabar yang terafilliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

Erwan Akui Masih Banyak Masyarakat di Jabar yang Terafiliasi dengan NII
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengakui, masih banyak masyarakat di Jabar yang terafilliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

INILAHKORAN.ID - Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengakui, masih banyak masyarakat di Jabar yang terafilliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

Sejak 2023 hingga kini, sudah 46 ribu orang anggota NII yang telah berikrar kembali ke NKRI. Termasuk 280 orang dari tujuh faksi, yang berikrar kembali ke NKRI di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar, Kamis 11 Desember 2025.

"Dan kami berharap, mereka yang sudah kembali ke NKRI ini bisa mengajak saudara-saudara lainnya untuk mencabut baiat juga," ujar Erwan.

Guna mengakselerasi ini kata dia, dibutuhkan kerjasama semua pihak termasuk Yayasan Prabu yang telah membantu mengembalikan 280 orang eks NII kembali ke NKRI. Sebab saat ini memang anggota NII masih banyak di Jabar.

"Masih banyak. Kita tidak tutup-tutupi. Tapi Insyaa Allah dengan kerja keras kita semua, kita bisa meminimalisir pergerakan mereka dan terus membujuk mereka dengan bantuan Yayasan Prabu agar kembali ke NKRI," ucapnya.

Sementara Ketua Yayasan Prabu Asep Margono mengungkapkan, sebagai mantan NII, orang yang paling banyak dan mudah dipengaruhi adalah anak muda. Sebab mereka tengah mencari jati diri, seperti siswa SMA dan mahasiswa.

"Makanya ketika ideologi ini kuat di anak muda, maka itu akan menyebar ke seluruh jaringan, ke seluruh bangsa jadi makanya sering kenapa dulu tahun 2015 banyak anak sekolah meninggalkan orang tua, menganggap kafir ibunya dan lain sebagainya," ucapnya.

Dari hasil data Yayasan Prabu, total ada 262 ribu orang di Jabar yang berbaiat ke NII. Sementara yang sudah berikrar kembali ke NKRI, baru sekitar 700 orang.

"Makanya, masih banyak. Pemerintah terutama, di pendidikan untuk memproteksi terkait ideologi," katanya.***


Editor : JakaPermana